Sabtu, 05 September 2015

* Anemone *

Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi 



Jika hidup ini adalah cinta, maka salahkah aku ingin selalu memiliki cinta?
Jika hidup ini adalah pilihan, maka salahkah jika setiap orang memiliki pilihan masing-masing?
Jika hidup ini adalah sandiwara, maka salahkah jika aku bermain peran dengannya?
Tapi jika hidup ini adalah sebuah pengkhianatan, pilihan manakah yang masih tersisa untukku?
Aah, cinta. Aku tak pernah mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya. Tapi meski begitu, aku sungguh merindukan cinta sejati. Aku rindu akan kasih dan perhatiannya padaku. Aku rindu akan semua kata-katanya yang begitu manis padaku. Aku rindu pada semua senyuman itu. Aku rindu. Bolehkah aku merindukanmu?
            Ingatan itu masih terlalu lekat, masih terlalu jelas meski diputar berulang kali dengan resolusi berapapun.
“Pinta,, kamu tahu gak,, hari ini aku seneeeeng bangett” ucapku pada Pinta sahabatku di dalam kelas. Aku dan Pinta memang selalu membicarakannya setiap kali guru tidak masuk, dan setiap kali ada kesempatan untuk membicarakannya. Tak tahu, dia terlalu menarik untuk tidak dilewatkan disetiap pembicaraan.
“Ciyeeee ,,, apa tentang si Dia?? Eheeemmmm eheemmm” ucap Pinta meledekku.
“Hehee, iyaa Pinta sayang kamu tahu ajaa pikiranku. Aku bener-bener dibuat melayang tahu gak sih. Seperti diajak terbang ke langit ke tujuh dan setiap yang kulihat adalah bunga-bunga cinta yang bertebaran dimana-mana” celotehku dengan wajah yang penuh harap.
“Hahaha, kamu alayy bangett siih Zarrah. Ehh,, tapi mungkin ini kode kalo dia juga suka sama kamu” ucap Pinta.
Namun percakapan kami terhenti karena tiba-tiba guru masuk ke kelas. Dan sebagai murid yang rajin (merasa rajin tepatnya), kami memilih diam. Namun entahlah, dalam hatiku, dia tidak pernah berhenti menghiburku, membuatku tertawa meski semuanya terdiam. Membuatku tersenyum, meski hanya seorang diri.
            Terkadang, muncul keinginanku untuk bisa lebih dekat dengannya saat di kelas. Sama seperti dekatnya kita dalam SMS-SMS itu. Tapi setiap aku berhadapan  dengannya, aku merasa rapuh, tak sanggup berdiri atau bahkan untuk sekedar mengerluarkan kata-kata.  Dia adalah cahaya hidupku, yang terus menyinariku, yang memberiku kekuatan dan semangat.   Namun kau tahu, cahaya ketika didekatkan terlalu dekat, bahkan bisa membuat mata kita sakit. Semuanya harus sesuai porsi, dan aku merasa porsi dengannya harus bertahap, tidak bisa langsung menuju tahap yang tinggi. Yah, begitulah yang aku pikirkan. 
            Apa pun yang aku rasakan tentangnya, selalu kuutarakan pada sahabatku, dialah Pinta. Aku merasa Pinta mengerti apa yang kuinginkan. Yahh tentu saja, dia selalu memberikan informasi-informasi ter-update tentangnya padaku.  Foto-foto terbarunya di Instagram, tweetnya di Twitter, sampai semua kegiatannya di Facebook. Pinta memberitahuku tentang itu. Aku merasa telah memilikinya. Aku dan dia menyadari akan kedekatan hubungan kita. Aku pun merasa apa yang kurasakan juga dia rasakan. Oh, betapa senangnya hati ini.
Tapi aku juga takut, takut dia akan berpaling dari tulusnya cinta yang kumiliki. Entahlah, mungkin karena perasaan cemburu yang begitu dalam saat aku melihat dia dekat dengan wanita lain. Yah, aku melihatnya dekat dengan seseorang yang juga menyukainya. Wanita itu selalu memberikan komentar pada semua postingannya, entah di Instagram, Twitter, maupun FB. Semuanya selalu hadir wanita itu. Aahhhhh,,,, wajarkah jika aku merasa cemburu?
Dan semua keluh kesahku tentangnya, selalu kuceritakan pada Pinta, karena dialah sahabatku yang paling mengerti tentang semua perasaanku.
“Sabar Zarrah, aku ngerti perasaan kamu. Tapi kayaknya dia ituu gak beneran suka deh sama cewek itu. Buktinya dia kan selalu perhatian sama kamu. Selalu tanyain kabarmu, pengin tahu semua yang kamu lakuin. Semua itu kurasa karena cinta.” Ucap Pinta menenangkanku.
Aku menang selalu merasa tenang, jika sudah mengeluarkan unek-unekku. Tapi setiap aku berpikir  tentangnya. Mengapa pertanyaan selalu saja bermunculan? Aku ingin menanyakan semua ini padanya, kenapa begini? Kenapa begitu? Aku cuma ingin tahu. Itu saja.
“Ta, aku bingung banget sama dia. Kamu tahu kan aku dan dia dekat banget. Aku itu cewek, feeling aku tuh kuat Ta. Aku yakin kok dia punya perasaan yang sama kayak aku. Tapi kenapa Ta,,, kenapa sampai sekarang dia enda nyatain cintanya ke aku? Berapa lama lagi aku harus nunggu Ta?” ucapku.
“Mungkin dia masih malu Ra’. Buktinya aja, sekaarang dia setiap ngeliat kamu tuh tetep aja nunduk, gak berani natap kamu. Kalo emang dia gak suka yaa sama kamu, kenapa dia gak besikap biasa-biasa aja kalo ketemu kamu?” ucap Pinta mengakhiri semua kegalauanku saat ini.
“Iya juga siih Ta, aku mungkin terlalu sayang sama dia. Sampai-sampai aku negatif thinking , karena aku takut, suatu saat kedekatan ini tak berakhir indah seperti yang kumau”.

            Aku dan Pinta tidak hanya bercerita tentang cinta. Kita juga selalu mengerjakan tugas bersama,  pulang sekolah bareng, aku sering main ke rumanya, dan dia juga sering main ke rumahku. Aku dan dia sudah seperti saudara.
            Dari hari ke hari, aku semakin merasakan rasa suka itu darinya untukku. Perhatiannya selalu ada untukku, kata-katanya selalu manis padaku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta? Yah,, setiap hari aku semakin jatuh cinta padanya.
***
Di hari dengan cuaca yang begitu panas ini. Entah mengapa hatiku ikut panas dan menjadi-jadi. Hatiku disobek, hatiku diiris-iris begitu tipis, hatiku remuk, hatiku hancur, seperti apakah hati yang tersisa ini?  Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan sepotong kecil sisa hati ini?
“Tuhaann,,, bantu akuu. Aku tak sanggup dengan semua inii” aku merintih setelah membaca semua SMS darinya untuknya. Yah,, dialah sahabatku, Pinta. Dialah yang ternyata menyukai laki-laki itu. Laki-laki yang sejak pertama kali melihatnya aku menyukainya, laki-laki yang sejak pertama aku menyukainya aku selalu bercerita padanya, laki-laki yang selalu ada dalam harapan-harapanku. Itulah dia yang ternyata sahabatku, saat ini, dia, lebih dekat dari seorang teman.
“Bagaimana mungkin kamu melakukan ini? Padahal kamu tahu, aku sunguh-sunguh mencintainya” rintihku dalam hati.
            Saat itu aku hanya ingin tahu informasi tentang dia. Aku membuka hp Pinta hanya untuk melihat foto-foto dia di Instagram.  Tapi tanpa sadar, tanganku tergerak untuk membuka SMS-SMSnya. Aku kaget. Ternyata sahabatku sendiri, telah memiliki kedekatan khusus dengannya. Dengan dia yang juga kusuka. Tapi kenapa,  kenapa baru sekarang? Setelah aku mencintainya dan setelah dia memberikan harapan padaku, dan dia memberikan dukungan untukku? Mengapa?
Aku membaca semua pesan-pesan itu dari awal sampai akhir. Begitu romantis, begitu menyakitkan.     Berhari-hari konflik ini terjadi. Berhari-hari aku sunguh tak kuasa menahan rasa cemburu ini. Emosiku benar-benar diuji.  Teman-teman kelasku sudah mengetahui tentang semuanya. Dan tentu saja ini menjadi bahan pembicaaraan yang begitu hangat.  Dan kelasku terbagi menjadi kelompok-kelompok. Suasana ini semakin kacau, ada apa dengan semua ini? Aku kah atau kamukah yang membuat semua kekacauan ini? Aku tak mengerti, aku hanya membenci keadaan ini, sungguh membencinya.
***

            Baiklah, berhari-hari aku mengobati lukaku, berusaha bertahan demi hidup ini. Berusaha tegar demi harapan. Dan menjadi kuat dengan semangat. Aku sungguh-sunguh berusaha tegar meski hatiku telah hancur berkeping-keping. 
Tapi pisau seperti apa lagi ini. Luka yang dulu kuobati, dan mungkin sembuh. Tiba-tiba saja kembali mengaga, terbuka lebar-lebar. Dan entah sampai kapan bisa kembali sembuh. Ataukah entah kapan aku bisa menyembuhkannya. Baru saja dia bercerita padaku, dia dan dia sudah menjadi sepasang kekasih.  Dan Pinta sendiri yang menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiranku, pikirannya, dan isi hatiku. Ada perasaan menerima karena sahabat, tapi ada juga perasaaan yang begitu menyakitkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menerima dengan perasaan yang apa adanya. Keadaan yang memaksaku dengan kejam untuk menerimanya. Pengakuan yang begituu menyakitkan.
Ahh,, kenapa dulu kau memberiku harapan? Jika akhirnya kau memilih dia. Tak tahukah kamu seperti apa rasa sakit itu? Seandainya aku menjadi kamu, dan kamu menjadi aku, bagaimana perasaanmu? Akankah kamu menerima semua keadaan dimana disetiap keadaan posismu selalu terjepit?
Begitu mudahnya aku mencintamu, begitu mudahnya kamu menyakitiku. Tetapi mengapa begitu sulit merelakanmu bersamanya? Aahhh,, aku memang bodoh yang telah percaya dengan semua harapanmu yang ternyata palsu. Kamu memang tak pernah berimajinasi, bagaimana jika aku yang menyakiti mu, menyakiti  dia, menyakiti kalian, seperti ini?
Ataukah bolehkah aku berharap satu harapan yang tidak mungkin? Bolehkah kalian saling mencintai setelah aku membencimu? Apa yang ada dipikiranmu? Tolong jelaskan. . aku benar-benar tersakiti. .
“Sudahlah Ra’. Jangan kamu membuat hatimu tersobek hanya karena satu atau dua orang. Dunia ini dipenuni oleh manusia. Ribuan, jutaan, milyaran, dan semuanya benar-benar bersedia menjadi pengobat hatimu Ra’. Ikhlaskan semuanya. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Tuhan hanya ingin mempertemukanmu dengan belahan jiwamu nanti, tanpa kamu  harus menjalin hubungan dengan laki-laki lain sebelum suatu saat kau bertemu dengannya Ra’. Siapa pun yang menyatukan diri hari ini, belum tentu akan disatukan Allah suatu hari nanti. Kamu harus bersyukur, Tuhan memberimu pelajaran berharga tentang hidup, cinta, dan persahabatan. Mengertilah dan pahamilah dengan artinya Ra’” ucap Riri memberiku dukungan.
“Terima kasih Ri.. aku merasa lebih baik sekarang. Mungkin aku hanya shock dengan semua kebetulan yang begitu cepat ini” ucapku pada Riri, teman kelasku yang selalu memberi motivasi untuk semua teman-temannya yang merasa sendiri dan kesepian.
“Waktu akan menjadi guru terbaik untuk kita. Kita hanya perlu berjalan bersama waktu, tanpa menunggunya, dan tanpa ditunggunya” ucap Riri.
            Dan begitulah jalan cerita cintaku, cinta yang menyakitkan. Yang selama ini ternyata hanyalah anemone, tak bisa menjadi nyata, ya anemone adalah sebuah harapan dan hanya harapan tidak untuk menjadi nyata.  Aku terus belajar mengikhlaskanmu, walau aku  tak mampu. Aku percaya, Tuhan selalu mampu membuatku tersenyum, mungkin suatu hari nanti. Lihatlah, Krisna.  J 

****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar