Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi
Jika hidup ini adalah
cinta, maka salahkah aku ingin selalu memiliki cinta?
Jika hidup ini adalah
pilihan, maka salahkah jika setiap orang memiliki pilihan masing-masing?
Jika hidup ini adalah
sandiwara, maka salahkah jika aku bermain peran dengannya?
Tapi jika hidup ini
adalah sebuah pengkhianatan, pilihan manakah yang masih tersisa untukku?
Aah, cinta. Aku tak
pernah mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya. Tapi meski begitu, aku sungguh
merindukan cinta sejati. Aku rindu akan kasih dan perhatiannya padaku. Aku
rindu akan semua kata-katanya yang begitu manis padaku. Aku rindu pada semua
senyuman itu. Aku rindu. Bolehkah aku merindukanmu?
Ingatan itu masih terlalu lekat,
masih terlalu jelas meski diputar berulang kali dengan resolusi berapapun.
“Pinta,, kamu tahu
gak,, hari ini aku seneeeeng bangett” ucapku pada Pinta sahabatku di dalam
kelas. Aku dan Pinta memang selalu membicarakannya setiap kali guru tidak
masuk, dan setiap kali ada kesempatan untuk membicarakannya. Tak tahu, dia
terlalu menarik untuk tidak dilewatkan disetiap pembicaraan.
“Ciyeeee ,,, apa
tentang si Dia?? Eheeemmmm eheemmm” ucap Pinta meledekku.
“Hehee, iyaa Pinta
sayang kamu tahu ajaa pikiranku. Aku bener-bener dibuat melayang tahu gak sih.
Seperti diajak terbang ke langit ke tujuh dan setiap yang kulihat adalah
bunga-bunga cinta yang bertebaran dimana-mana” celotehku dengan wajah yang
penuh harap.
“Hahaha, kamu alayy bangett siih Zarrah. Ehh,, tapi
mungkin ini kode kalo dia juga suka sama kamu” ucap Pinta.
Namun percakapan kami
terhenti karena tiba-tiba guru masuk ke kelas. Dan sebagai murid yang rajin
(merasa rajin tepatnya), kami memilih diam. Namun entahlah, dalam hatiku, dia
tidak pernah berhenti menghiburku, membuatku tertawa meski semuanya terdiam.
Membuatku tersenyum, meski hanya seorang diri.
Terkadang, muncul keinginanku untuk
bisa lebih dekat dengannya saat di kelas. Sama seperti dekatnya kita dalam
SMS-SMS itu. Tapi setiap aku berhadapan
dengannya, aku merasa rapuh, tak sanggup berdiri atau bahkan untuk
sekedar mengerluarkan kata-kata. Dia
adalah cahaya hidupku, yang terus menyinariku, yang memberiku kekuatan dan
semangat. Namun kau tahu, cahaya ketika
didekatkan terlalu dekat, bahkan bisa membuat mata kita sakit. Semuanya harus
sesuai porsi, dan aku merasa porsi dengannya harus bertahap, tidak bisa
langsung menuju tahap yang tinggi. Yah, begitulah yang aku pikirkan.
Apa pun yang aku rasakan tentangnya,
selalu kuutarakan pada sahabatku, dialah Pinta. Aku merasa Pinta mengerti apa
yang kuinginkan. Yahh tentu saja, dia selalu memberikan informasi-informasi
ter-update tentangnya padaku. Foto-foto terbarunya di Instagram, tweetnya di Twitter,
sampai semua kegiatannya di Facebook.
Pinta memberitahuku tentang itu. Aku merasa telah memilikinya. Aku dan dia
menyadari akan kedekatan hubungan kita. Aku pun merasa apa yang kurasakan juga
dia rasakan. Oh, betapa senangnya hati ini.
Tapi aku juga takut,
takut dia akan berpaling dari tulusnya cinta yang kumiliki. Entahlah, mungkin
karena perasaan cemburu yang begitu dalam saat aku melihat dia dekat dengan
wanita lain. Yah, aku melihatnya dekat dengan seseorang yang juga menyukainya.
Wanita itu selalu memberikan komentar pada semua postingannya, entah di
Instagram, Twitter, maupun FB. Semuanya selalu hadir wanita itu. Aahhhhh,,,,
wajarkah jika aku merasa cemburu?
Dan semua keluh
kesahku tentangnya, selalu kuceritakan pada Pinta, karena dialah sahabatku yang
paling mengerti tentang semua perasaanku.
“Sabar Zarrah, aku
ngerti perasaan kamu. Tapi kayaknya dia ituu gak beneran suka deh sama cewek
itu. Buktinya dia kan selalu perhatian sama kamu. Selalu tanyain kabarmu,
pengin tahu semua yang kamu lakuin. Semua itu kurasa karena cinta.” Ucap Pinta
menenangkanku.
Aku menang selalu
merasa tenang, jika sudah mengeluarkan unek-unekku. Tapi setiap aku
berpikir tentangnya. Mengapa pertanyaan
selalu saja bermunculan? Aku ingin menanyakan semua ini padanya, kenapa begini?
Kenapa begitu? Aku cuma ingin tahu. Itu saja.
“Ta, aku bingung
banget sama dia. Kamu tahu kan aku dan dia dekat banget. Aku itu cewek, feeling aku tuh kuat Ta. Aku yakin kok
dia punya perasaan yang sama kayak aku. Tapi kenapa Ta,,, kenapa sampai
sekarang dia enda nyatain cintanya ke aku? Berapa lama lagi aku harus nunggu
Ta?” ucapku.
“Mungkin dia masih
malu Ra’. Buktinya aja, sekaarang dia setiap ngeliat kamu tuh tetep aja nunduk,
gak berani natap kamu. Kalo emang dia gak suka yaa sama kamu, kenapa dia gak
besikap biasa-biasa aja kalo ketemu kamu?” ucap Pinta mengakhiri semua
kegalauanku saat ini.
“Iya juga siih Ta,
aku mungkin terlalu sayang sama dia. Sampai-sampai aku negatif thinking , karena aku takut, suatu saat kedekatan ini tak
berakhir indah seperti yang kumau”.
Aku dan Pinta tidak hanya bercerita
tentang cinta. Kita juga selalu mengerjakan tugas bersama, pulang sekolah bareng, aku sering main ke
rumanya, dan dia juga sering main ke rumahku. Aku dan dia sudah seperti saudara.
Dari hari ke hari, aku semakin merasakan
rasa suka itu darinya untukku. Perhatiannya selalu ada untukku, kata-katanya
selalu manis padaku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta? Yah,, setiap hari
aku semakin jatuh cinta padanya.
***
Di hari dengan cuaca
yang begitu panas ini. Entah mengapa hatiku ikut panas dan menjadi-jadi. Hatiku
disobek, hatiku diiris-iris begitu tipis, hatiku remuk, hatiku hancur, seperti
apakah hati yang tersisa ini? Bagaimana
mungkin aku bisa hidup dengan sepotong kecil sisa hati ini?
“Tuhaann,,, bantu
akuu. Aku tak sanggup dengan semua inii” aku merintih setelah membaca semua SMS
darinya untuknya. Yah,, dialah sahabatku, Pinta. Dialah yang ternyata menyukai
laki-laki itu. Laki-laki yang sejak pertama kali melihatnya aku menyukainya,
laki-laki yang sejak pertama aku menyukainya aku selalu bercerita padanya,
laki-laki yang selalu ada dalam harapan-harapanku. Itulah dia yang ternyata
sahabatku, saat ini, dia, lebih dekat dari seorang teman.
“Bagaimana mungkin
kamu melakukan ini? Padahal kamu tahu, aku sunguh-sunguh mencintainya” rintihku
dalam hati.
Saat itu aku hanya ingin tahu
informasi tentang dia. Aku membuka hp Pinta hanya untuk melihat foto-foto dia
di Instagram. Tapi tanpa sadar, tanganku
tergerak untuk membuka SMS-SMSnya. Aku kaget. Ternyata sahabatku sendiri, telah
memiliki kedekatan khusus dengannya. Dengan dia yang juga kusuka. Tapi
kenapa, kenapa baru sekarang? Setelah
aku mencintainya dan setelah dia memberikan harapan padaku, dan dia memberikan
dukungan untukku? Mengapa?
Aku membaca semua
pesan-pesan itu dari awal sampai akhir. Begitu romantis, begitu menyakitkan. Berhari-hari konflik ini terjadi.
Berhari-hari aku sunguh tak kuasa menahan rasa cemburu ini. Emosiku benar-benar
diuji. Teman-teman kelasku sudah
mengetahui tentang semuanya. Dan tentu saja ini menjadi bahan pembicaaraan yang
begitu hangat. Dan kelasku terbagi
menjadi kelompok-kelompok. Suasana ini semakin kacau, ada apa dengan semua ini?
Aku kah atau kamukah yang membuat semua kekacauan ini? Aku tak mengerti, aku
hanya membenci keadaan ini, sungguh membencinya.
***
Baiklah, berhari-hari aku mengobati
lukaku, berusaha bertahan demi hidup ini. Berusaha tegar demi harapan. Dan
menjadi kuat dengan semangat. Aku sungguh-sunguh berusaha tegar meski hatiku
telah hancur berkeping-keping.
Tapi pisau seperti
apa lagi ini. Luka yang dulu kuobati, dan mungkin sembuh. Tiba-tiba saja
kembali mengaga, terbuka lebar-lebar. Dan entah sampai kapan bisa kembali
sembuh. Ataukah entah kapan aku bisa menyembuhkannya. Baru saja dia bercerita
padaku, dia dan dia sudah menjadi sepasang kekasih. Dan Pinta sendiri yang menceritakan semuanya
padaku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiranku, pikirannya, dan isi hatiku.
Ada perasaan menerima karena sahabat, tapi ada juga perasaaan yang begitu
menyakitkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menerima dengan
perasaan yang apa adanya. Keadaan yang memaksaku dengan kejam untuk
menerimanya. Pengakuan yang begituu menyakitkan.
Ahh,, kenapa dulu kau
memberiku harapan? Jika akhirnya kau memilih dia. Tak tahukah kamu seperti apa
rasa sakit itu? Seandainya aku menjadi kamu, dan kamu menjadi aku, bagaimana
perasaanmu? Akankah kamu menerima semua keadaan dimana disetiap keadaan posismu
selalu terjepit?
Begitu mudahnya aku
mencintamu, begitu mudahnya kamu menyakitiku. Tetapi mengapa begitu sulit
merelakanmu bersamanya? Aahhh,, aku memang bodoh yang telah percaya dengan
semua harapanmu yang ternyata palsu. Kamu memang tak pernah berimajinasi,
bagaimana jika aku yang menyakiti mu, menyakiti
dia, menyakiti kalian, seperti ini?
Ataukah bolehkah aku
berharap satu harapan yang tidak mungkin? Bolehkah kalian saling mencintai
setelah aku membencimu? Apa yang ada dipikiranmu? Tolong jelaskan. . aku
benar-benar tersakiti. .
“Sudahlah Ra’. Jangan
kamu membuat hatimu tersobek hanya karena satu atau dua orang. Dunia ini
dipenuni oleh manusia. Ribuan, jutaan, milyaran, dan semuanya benar-benar
bersedia menjadi pengobat hatimu Ra’. Ikhlaskan semuanya. Mungkin Tuhan punya
rencana lain. Tuhan hanya ingin mempertemukanmu dengan belahan jiwamu nanti,
tanpa kamu harus menjalin hubungan
dengan laki-laki lain sebelum suatu saat kau bertemu dengannya Ra’. Siapa pun
yang menyatukan diri hari ini, belum tentu akan disatukan Allah suatu hari
nanti. Kamu harus bersyukur, Tuhan memberimu pelajaran berharga tentang hidup,
cinta, dan persahabatan. Mengertilah dan pahamilah dengan artinya Ra’” ucap
Riri memberiku dukungan.
“Terima kasih Ri..
aku merasa lebih baik sekarang. Mungkin aku hanya shock dengan semua kebetulan yang begitu cepat ini” ucapku pada
Riri, teman kelasku yang selalu memberi motivasi untuk semua teman-temannya
yang merasa sendiri dan kesepian.
“Waktu akan menjadi
guru terbaik untuk kita. Kita hanya perlu berjalan bersama waktu, tanpa
menunggunya, dan tanpa ditunggunya” ucap Riri.
Dan begitulah jalan cerita cintaku,
cinta yang menyakitkan. Yang selama ini ternyata hanyalah anemone, tak bisa menjadi
nyata, ya anemone adalah sebuah harapan dan hanya harapan tidak untuk menjadi
nyata. Aku terus belajar
mengikhlaskanmu, walau aku tak mampu.
Aku percaya, Tuhan selalu mampu membuatku tersenyum, mungkin suatu hari nanti.
Lihatlah, Krisna. J
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar