“Bagaimana
mungkin ini terjadi? Heyyy!!!! Yang benar saja,apakah ini mimpi?? Ah, mustahil. Saat ini dia berdiri di
depanku, dengan tubuh yang sangat besar,tangan sebesar gunung, dan bentuk tubuh
yang sangat aneh, apa ini?! Tidaaak,,, ini makhluk yang lebih menyeramkan dari
monster.”
Oh
tidak, makhluk itu mendekat. Lucy memejamkan mata,tak sanggup melihat apa yang
terjadi. Tapi,bau itu menyengat, memaksa Lucy membuka mata, penasaran dengan
apa yang terjadi. Astaga, apa ini? Anak
kecil. Monster? Iya. Seorang anak kecil, dengan celana pendek tertidur di
punggung monster itu. Lucy mundur perlahan, sambil memegang tongkat sihir
pemberian Rider . Baru seminggu yang
lalu dia belajar tentang sihir,
kemampuannya masih tidak cukup untuk mengalahkan makhluk ini. Tapi Lucy bisa memanggil Rider untuk
membantu. “Okey Lucy, ucapkan mantranya!!!” gumamnya pada diri sendiri. Ah dia
lupa sihirnya. Sambil mengingat-ingat, dia memberanikan diri mendekat. Monster
itu hanya diam, sementara anak kecil
tadi masih tertidur di punggungnya.
“Siapa
kamu?” tanya Lucy sambil menyipitkan matanya yang kecil.
Tapi
monster itu hanya menggeleng dan tidak mengatakan apa-apa. Apakah semua monster
di dunia sihir dan dunia manusia sama saja? Sama-sama tidak bisa bicara. Ah
tidak, memangnya di kehidupan normal ada monster? Tidak mungkin__meskipun
mungkin saja. Ah ya, dia menggerak-gerakkan tubuhnya agar anak kecil di
punggungnya bangun. Kemudian menatap
Lucy, berharap Lucy mengerti maksudnya.
Lucy mendekat, lalu memperhatikan anak kecil itu. Anak itu sepertinya terluka,
atau mungkin saja terkena sihir yang amat hebat.
“Aku
tidak yakin, tapi sepertinya anak kecil ini terkena sihir yang sangat hebat,
aku tidak bisa menyembuhkannya. Tapi temanku bisa melakukan itu, apakah kamu
kemari agar aku menolongnya?”
Monster
itu mengangguk. Mencondongkan badan, menyuruh Lucy menurunkan bocah di
punggungnya__cerdas.
“Tapi
tunggu, aku sedang mengingat mantra pemanggilnya bagaimana, aku baru belajar
sihir dan aku masih sering lupa. Satu-satunya sihir yang sangat aku kuasai saat
ini adalah menjadikan tongkat sihir ini sebagai pelita” kata Lucy dan monster
itu mengangguk lagi.
Sambil
memegang tongkat sihir yang menyala-nya seperti lampu. Lucy masih terus
mengingat.
“Ca...”
“Caamara..”
“Carmiionne.” Aha, benar “Carmiionne” ucap Lucy__mengayunkan
tongkat sihir. Astaga, tapi yang muncul bukan Rider, justru tembok di seberang
sana menjadi hancur berantakan.
“Celaka.”
“Catydemiornee” satu pohon tumbang.
“Viva Medertie” tubuhnya berputar-putar.
“Avryza Sativa” tubuh bocah itu terangkat ke atas karena
tongkat sihir Lucy mengenainya.
“Oh
no no no noo”
Lucy segera
berlari mendekati bocah itu, sebelum tubuhnya jatuh terhempas ke tanah. Namun Lucy terlambat, bocah itu terlanjur
terhempas ke tanah ketika Lucy baru melangkah beberapa langkah. Sepertinya
Lucyana benar-benar lupa sihir yang satu itu. Dan astaga, monster itu berdiri.
Matanya membesar dan memerah seperti darah, ototnya membesar, lalu dia
meraung-raung pertanda bahwa dia mulai marah.
“Oh God. Tunggulah. Aku tidak berniat
mencelakai siapa pun. Aku hanya sedang mencoba mengingat mantra pemanggilku.
Agar aku bisa memanggil Rider dan menolong bocah ini. Sungguh, be patient dear” ucap Lucy_ mencoba membujuk_bernegosiasi. Namun sepertinya
sia-sia saja. Monster itu sudah mengamuk. Meraung-raung mendekati Lucyana.
Sepertinya tidak ada pilihan bagi Lucy
selain lari menyelamatkan diri. Monster ini sudah benar-benar di luar kendali.
Perlu sihir yang kuat yang bisa mengembalikannya seperti semula, tapi yang
jelas itu bukan Lucy. Hanya Rider yang bisa Lucy andalkan disaat-saat genting
seperti ini. Tapi Rider tidak ada, dan Lucy tidak bisa mengingat mantra
pemanggil agar Rider segera kesini. Tidak ada pilihan bagi Lucy selain lari ke
arah pantai di sebelah timur Pulau Tua. Meskipun disana adalah tempat
manusia-manusia normal biasanya menenggelamkan diri di waktu senja seperti ini.
Ah, semuanya benar-benar rumit. Lucy gemetar, kakinya berlari lebih cepat dari
biasa. Mungkinkah ini akhir dari segalanya andaikan monster itu berhasil
menangkap Lucy?
Oh
God. Lucyana terjatuh. Kakinya tersandung akar pohon. Monster itu semakin
dekat, dan dekat. Matanya yang merah seperti darah, menatap Lucyana. Tangannya
mulai mengeluarkan kuku-kuku yang tajam dan panjang. Dan dari kepalanya keluar
dua tanduk yang melengkung ke depan. Lucy sudah tidak sanggup berlari.
Sepertinya ini benar-benar akhir dari segalanya.
“Aku
tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Tapi seharusnya kamu tidak menjadi marah,
agar aku bisa menemukan solusi dan menolong bocah itu. Sekarang aku sudah
berhenti berlari, aku sudah tidak sannggup menyelamatkan hidupku sendiri jika
kamu sudah siap memakanku, atau mungkin mencabik-cabik hingga aku seperti
daging yang dicincang.” Ucap Lucy dengan lirih.
Tapi
percuma! Monster itu sudah kehilangan kendali. Tidak ada yang bisa membaik saat
seseorang__dalam kasus ini disebut seseorang meskipun ia adalah monster__
kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia sudah tidak bisa mencerna
kata-kata. Padahal sebelumnya dia monster yang ramah. Meskipun agak ganjil
menyebut monster itu ramah, sebenarnya. Monster itu mengangkat kedua tangannya,
siap-siap mencabik Lucy dengan kukunya yang panjang. Genting! Suasana sangat
tidak terkendali. Mantra-mantra itu, semuanya hilang dari ingatan. Lalu
bagaimana? Berharap Ratu Langit berbaik hati. Seketika menurunkan tentara
langit, meniupkan sihir dari dunianya, menembus lorong waktu, dan Lucy kembali
ke dunianya. Selamat? Tapi sayang itu
tidak terjadi. Ratu Langit tidak meniupkan sihir apa-apa sampai akhirnya cakar
itu mengenai Lucy. Kepalanya bercucuran darah. Darah segar mengalir deras
akibat cakar yang tajam dan buas. Cakaran kedua. Tongkat sihirnya melayang
entah kemana. Dan ..
“Avada Sterionee.” Monster itu
runtuh seketika sebelum cakar itu jatuh
untuk ketiga kalinya. .
Tidak
ada waktu bertanya, apalagi menanyakan
“Kau baik-baik saja?!” Jelas ini tidak baik. Darah segar dari kepala Lucy.
Bekas cakaran yang dalam. Rider tidak bisa menghentikan pendarahan. Mengalir
seperti bah. Luka hebat. Dua lubang di kepala, bukan main ini kejadian yang
tidak pernah terjadi dalam sejarah sihir. Bahkan buku-buku ramuan yang pernah
dipelajari di sekolah, tidak pernah menjelaskan bagaimana menangasi kasus
kepala terluka dengan dua lubang besar yang mengalirkan darah segar.
“Bertahanlah.
Bertahanlan Lucy. Kita akan kembali ke dunia sihir. Kau pasti selamat.”
“Rider
... Fuchsia.. fuchsia..” Lucy berusaha
menggerakkan bibir disisa-sisa tenaganya yang tinggal sedikit. Hanya ada lima
menit untuk berhasil menyelamatkan nyawanya. Darah yang keluar dari kepala
mengundang perih tak terkira, tentu saja tidak seperti darah yang keluar dari
tempat-tempat lain.
Rider
yang cerdas, dengan segera merangkai penjelasan. Dua detik.. tiga detik.. lima
detik... Yah!! Dia menemukannya. Fuchsia! Pengendali waktu! Pemanggil
kehidupan! Semuanya berhubungan. Maka tanpa berpikir panjang.
“Accioo timcorneter” Rider mengucapkan sihirnya. Maka dalam tiga detik
melesatlah mesin pengendali waktu ke genggamannya. Rider dengan lihainya
memecahkan kode. Sudah menjadi kebiasaannya memecahkan kode dari benda-benda
unik di sekolah sihir.
Rider menyadari, hanya ada waktu 5 menit
untuk menyelamatnya Lucy, dan tidak mungkin membawanya kembali ke dunia sihir.
Menembus dinding sihir membutuhkan tenaga yang cukup banyak, dan Lucy tidak
mungkin melakukannya. Maka dengan pengendali waktu di tangannya, Rider menghentikan waktu selama 10 menit, waktu
maksimal bagi mesin itu bekerja menghentikan waktu.
Dan
rencana kedua. Pemanggil kehidupan. Mantra itu sudah dia pelajari sejak sebulan
yang lalu. Saat semua orang mengisi waktu senggangnya dengan bermain dengan
ikan berkepala naga, Rider justru memilih mempelajari mantra pemanggil
kehidupan. Iya, dan sekarang berguna.
Lima
menit sepuluh detik..
Enam
menit tiga belas detik..
Seekor
burung gagak datang membawa setangkai Bunga Fuchsia. Iya, bunga keabadian! Di
dunia sihir, mencium aromnya saja bisa menyembuhkan luka akibat hewan
peliharaan yang buas, seperti semburan api dari ikan berkepala naga. Apalagi
bisa membumbuinya dengan mantra-mantra sesuai petunjuk buku tua. Dan Rider melakukannya.
Dia berhasil menciptakan ramuan. Aromanya menyengat, berwarna merah keunguan.
Sembilan menit 12 detik..
Rider
segera menumpahkan ramuan itu di atas kepala Lucy yang mengalami pendarahan.
Dalam beberapa detik kepala dengan darah itu mengeluarkan asap yang mengepul.
Pertanda baik. Sepuluh detik tersisa.. Lucy masih mengerang kesakitan.
“Bertahanlah
Lucy,, bertahanlah... kau pasti selamat”
Lima
detik bersisa...
Empat
detik ...
Tiga
detik..
Dan
sepertinya Ratu Langit sedang berbaik hati. Mantra pemanggil kehidupan itu
berhasil!! Iya berhasil!! Tepat di satu detik terakhir mesin pengendali waktu
bekerja. Lucy sadar, dan dua lubang besar di kepalanya kembali utuh. Tidak ada
lagi darah yang mengalir. Tidak ada lagi kesakitan. Benar-benar sihir yang
sempurna. Rider, di usianya yang masih muda, berhasil melakukan sihir yang
tidak dilakukan penyihir dewasa sepanjang sejarah.
“Raid
... Kamu ada disaat yang tepat. Itu adalah detik-detik kematianku yang kemudian
ditunda karena kehadiranmu. Aku sangat berterima kasih Rider” ucap Lucy. Tulus.
“Ahh
sudahlah, bagaimana kamu bisa disini?” tanya Rider .
“Seharusnya
aku yang bertanya kenapa kau ada disini Rider? Tapi apapun alasannya, ini
benar-benar kebetulan yang luarbiasa. Ah iya, tadi aku ada di dekat gua di
sebelah sana, lalu monster ini muncul bersama seorang anak kecil yang
sepertinya mengalami luka dalam yang sangat parah karena sihir, awalnya dia
baik. Aku mencoba memanggilmu untuk menyembuhkan dia, karena kamu tahu kan
sihirku masih tidak seberapa? Lalu aku mencoba mengingat mantra pemanggil tapi
justru menjadi mantra lain, dan sempat membuat bocah kecil disana terangkat dan
terhempas ke tanah. Mungkin monster ini marah, dan tiba-tiba saja dia berubah
menjadi sangat menyeramkan seperti ini. Aku tidak tahu arah lain, selain
berlari ke arah pantai,” Lucyana menjelaskan.
“Kamu
tahu ini sudah memasuki waktu senja, kepala sekolah pasti menghukummu jika tahu
kamu di pantai di waktu senja. Kamu masih ingat kan peraturan di sekolah
sihir?” Ucap Rider .
“Aku
benar-benar panik Rider. Maafkan aku”
“Lupakan
itu Lucy, kamu belum tiba di pantai dan itu belum menjadi pelanggaran. Bahkan
aku juga memakai mantra pemanggil kehidupan, bukankah itu mantra paling
dilarang di dunia sihir? Apalagi untuk penyihir cilik seperti kita.” ucap Rider
setengah bergurau.
“Ini
akan menjadi rahasia kita.” Lucyana tersenyum.
“Omong-omong
tadi kamu bilang bocah? Dimana dia? Sihir itu mungkin bisa disembuhkan dengan
bunga keabadian.” sambung Rider .
“Sebelah
sana. Tapi kembalikan dulu monster ini seperti semula Rid. Bentuk ini terlalu
menyeramkan untuknya, bukan?”
“Okey,” ucap Rider menyipitkan mata.
Mereka kembali memasuki hutan, oh tidak
bukan hutan, tapi tempat yang mirip seperti hutan. Hutan dengan pohon tanpa
daun, sama-sama dihuni oleh hewan, tapi hewan-hewan dengan tubuh dua kali lebih
besar dari tubuh hewan di hutan biasa. Mereka tiba. Anak kecil tadi masih terbaring
di tempat semula, kemudian Rider mengeluarkan tongkat sihirnya. Lucy menjadikan
tongkat sihirnya sebagai pelita, sementara Rider menggunakan tongkatnya untuk
menolong bocah tadi.
“Florentewer,” kemudian keluarlah bunga
Fuchsia dari ujung tongkatnya.
Rider
mencampurkan bunga Fuchsia itu ke dalam air murni yang diberi mantra. Kemudian
dia menyiram seluruh tubuh bocah malang
itu dengan airnya seperti yang dilakukannya pada Lucy.
“Lovelity Deapemio.”
Bocah
itu pun menyadarkan diri. Normal. Kembali seperti semula. Bocah itu, tanpa
bertanya, langsung mengetahui dua orang di depannya pasti berasal dari dunia
sihir. Penampilannya terlalu unik untuk disebut ‘manusia’. Sementara Rider dan
Lucy tak sedikitpun menyadari bahwa anak kecil di depannya, adalah anak dari
kepala sekolahnya di sekolah sihir.
Senja
semakin menghilang di ufuk barat. Sudah saatnya kembali. Rider dan
Lucy merangkul anak kecil itu, menembus dinding sihir. Kembali ke dunianya.
“Pulau ini terlalu berbahaya untuk kaum ‘aneh’ seperti kami”__Lucyana.
Setibanya
di sekolah, Rider dan Lucy mendapat penghargaan dari kepala
sekolah, atas kecerdasan, keberanian, dan kejernihan hati untuk menolong. Maka
kehidupan kembali normal, bersekolah seperti biasa, mempelajari sihir, ramuan,
dan tingkah-tingkah aneh binatang piaraan. Meskipun tidak menutup kemungkinan,
monster itu datang dengan kekuatan yang lebih besar. Tapi keberanian bahkan
mampu menembus waktu, mencakar langit, memanggil kehidupan__.