Sabtu, 03 Oktober 2015

“Pemanggil Kehidupan”



“Bagaimana mungkin ini terjadi? Heyyy!!!! Yang benar saja,apakah ini  mimpi?? Ah, mustahil. Saat ini dia berdiri di depanku, dengan tubuh yang sangat besar,tangan sebesar gunung, dan bentuk tubuh yang sangat aneh, apa ini?! Tidaaak,,, ini makhluk yang lebih menyeramkan dari monster.”
Oh tidak, makhluk itu mendekat. Lucy memejamkan mata,tak sanggup melihat apa yang terjadi. Tapi,bau itu menyengat, memaksa Lucy membuka mata, penasaran dengan apa yang terjadi. Astaga, apa ini?  Anak kecil. Monster? Iya. Seorang anak kecil, dengan celana pendek tertidur di punggung monster itu. Lucy mundur perlahan, sambil memegang tongkat sihir pemberian Rider  . Baru seminggu yang lalu dia  belajar tentang sihir, kemampuannya masih tidak cukup untuk mengalahkan makhluk  ini. Tapi Lucy bisa memanggil Rider   untuk membantu. “Okey Lucy, ucapkan mantranya!!!” gumamnya pada diri sendiri. Ah dia lupa sihirnya. Sambil mengingat-ingat, dia memberanikan diri mendekat. Monster itu  hanya diam, sementara anak kecil tadi masih tertidur di punggungnya.
“Siapa kamu?” tanya Lucy sambil menyipitkan matanya yang kecil. 
Tapi monster itu hanya menggeleng dan tidak mengatakan apa-apa. Apakah semua monster di dunia sihir dan dunia manusia sama saja? Sama-sama tidak bisa bicara. Ah tidak, memangnya di kehidupan normal ada monster? Tidak mungkin__meskipun mungkin saja. Ah ya, dia menggerak-gerakkan tubuhnya agar anak kecil di punggungnya bangun. Kemudian  menatap Lucy, berharap  Lucy mengerti maksudnya. Lucy mendekat, lalu memperhatikan anak kecil itu. Anak itu sepertinya terluka, atau mungkin saja terkena sihir yang amat hebat.
“Aku tidak yakin, tapi sepertinya anak kecil ini terkena sihir yang sangat hebat, aku tidak bisa menyembuhkannya. Tapi temanku bisa melakukan itu, apakah kamu kemari agar aku menolongnya?”  
Monster itu mengangguk. Mencondongkan badan, menyuruh Lucy menurunkan bocah di punggungnya__cerdas.
“Tapi tunggu, aku sedang mengingat mantra pemanggilnya bagaimana, aku baru belajar sihir dan aku masih sering lupa. Satu-satunya sihir yang sangat aku kuasai saat ini adalah menjadikan tongkat sihir ini sebagai pelita” kata Lucy dan monster itu mengangguk lagi.
Sambil memegang tongkat sihir yang menyala-nya seperti lampu. Lucy masih terus mengingat.
Ca...”
Caamara..”
Carmiionne.” Aha, benar “Carmiionne” ucap Lucy__mengayunkan tongkat sihir. Astaga, tapi yang muncul bukan Rider, justru tembok di seberang sana menjadi hancur berantakan.
“Celaka.”
“Catydemiornee”  satu pohon tumbang.
“Viva Medertie”  tubuhnya berputar-putar.
“Avryza Sativa”  tubuh bocah itu terangkat ke atas karena tongkat sihir Lucy mengenainya.
“Oh no no no noo”
 Lucy  segera berlari mendekati bocah itu, sebelum tubuhnya jatuh terhempas ke tanah.  Namun Lucy terlambat, bocah itu terlanjur terhempas ke tanah ketika Lucy baru melangkah beberapa langkah. Sepertinya Lucyana benar-benar lupa sihir yang satu itu. Dan astaga, monster itu berdiri. Matanya membesar dan memerah seperti darah, ototnya membesar, lalu dia meraung-raung pertanda bahwa dia mulai marah.
“Oh God. Tunggulah. Aku tidak berniat mencelakai siapa pun. Aku hanya sedang mencoba mengingat mantra pemanggilku. Agar aku bisa memanggil Rider   dan menolong bocah ini. Sungguh, be patient dear” ucap Lucy_ mencoba membujuk_bernegosiasi. Namun sepertinya sia-sia saja. Monster itu sudah mengamuk. Meraung-raung mendekati Lucyana.
        Sepertinya tidak ada pilihan bagi Lucy selain lari menyelamatkan diri. Monster ini sudah benar-benar di luar kendali. Perlu sihir yang kuat yang bisa mengembalikannya seperti semula, tapi yang jelas itu bukan Lucy. Hanya Rider   yang bisa Lucy andalkan disaat-saat genting seperti ini. Tapi Rider tidak ada, dan Lucy tidak bisa mengingat mantra pemanggil agar Rider segera kesini. Tidak ada pilihan bagi Lucy selain lari ke arah pantai di sebelah timur Pulau Tua. Meskipun disana adalah tempat manusia-manusia normal biasanya menenggelamkan diri di waktu senja seperti ini. Ah, semuanya benar-benar rumit. Lucy gemetar, kakinya berlari lebih cepat dari biasa. Mungkinkah ini akhir dari segalanya andaikan monster itu berhasil menangkap Lucy?
Oh God. Lucyana terjatuh. Kakinya tersandung akar pohon. Monster itu semakin dekat, dan dekat. Matanya yang merah seperti darah, menatap Lucyana. Tangannya mulai mengeluarkan kuku-kuku yang tajam dan panjang. Dan dari kepalanya keluar dua tanduk yang melengkung ke depan. Lucy sudah tidak sanggup berlari. Sepertinya ini benar-benar akhir dari segalanya.
“Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Tapi seharusnya kamu tidak menjadi marah, agar aku bisa menemukan solusi dan menolong bocah itu. Sekarang aku sudah berhenti berlari, aku sudah tidak sannggup menyelamatkan hidupku sendiri jika kamu sudah siap memakanku, atau mungkin mencabik-cabik hingga aku seperti daging yang dicincang.” Ucap Lucy dengan lirih.
Tapi percuma! Monster itu sudah kehilangan kendali. Tidak ada yang bisa membaik saat seseorang__dalam kasus ini disebut seseorang meskipun ia adalah monster__ kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia sudah tidak bisa mencerna kata-kata. Padahal sebelumnya dia monster yang ramah. Meskipun agak ganjil menyebut monster itu ramah, sebenarnya. Monster itu mengangkat kedua tangannya, siap-siap mencabik Lucy dengan kukunya yang panjang. Genting! Suasana sangat tidak terkendali. Mantra-mantra itu, semuanya hilang dari ingatan. Lalu bagaimana? Berharap Ratu Langit berbaik hati. Seketika menurunkan tentara langit, meniupkan sihir dari dunianya, menembus lorong waktu, dan Lucy kembali ke dunianya. Selamat?  Tapi sayang itu tidak terjadi. Ratu Langit tidak meniupkan sihir apa-apa sampai akhirnya cakar itu mengenai Lucy. Kepalanya bercucuran darah. Darah segar mengalir deras akibat cakar yang tajam dan buas. Cakaran kedua. Tongkat sihirnya melayang entah kemana. Dan ..
Avada Sterionee.” Monster itu runtuh  seketika sebelum cakar itu jatuh untuk ketiga kalinya. .
Tidak ada waktu  bertanya, apalagi menanyakan “Kau baik-baik saja?!” Jelas ini tidak baik. Darah segar dari kepala Lucy. Bekas cakaran yang dalam. Rider   tidak bisa menghentikan pendarahan. Mengalir seperti bah. Luka hebat. Dua lubang di kepala, bukan main ini kejadian yang tidak pernah terjadi dalam sejarah sihir. Bahkan buku-buku ramuan yang pernah dipelajari di sekolah, tidak pernah menjelaskan bagaimana menangasi kasus kepala terluka dengan dua lubang besar yang mengalirkan darah segar.
“Bertahanlah. Bertahanlan Lucy. Kita akan kembali ke dunia sihir. Kau pasti selamat.”
“Rider  ... Fuchsia.. fuchsia..” Lucy berusaha menggerakkan bibir disisa-sisa tenaganya yang tinggal sedikit. Hanya ada lima menit untuk berhasil menyelamatkan nyawanya. Darah yang keluar dari kepala mengundang perih tak terkira, tentu saja tidak seperti darah yang keluar dari tempat-tempat lain.
Rider yang cerdas, dengan segera merangkai penjelasan. Dua detik.. tiga detik.. lima detik... Yah!! Dia menemukannya. Fuchsia! Pengendali waktu! Pemanggil kehidupan! Semuanya berhubungan. Maka tanpa berpikir panjang.
Accioo timcorneter” Rider   mengucapkan sihirnya. Maka dalam tiga detik melesatlah mesin pengendali waktu ke genggamannya. Rider dengan lihainya memecahkan kode. Sudah menjadi kebiasaannya memecahkan kode dari benda-benda unik di sekolah sihir.
        Rider menyadari, hanya ada waktu 5 menit untuk menyelamatnya Lucy, dan tidak mungkin membawanya kembali ke dunia sihir. Menembus dinding sihir membutuhkan tenaga yang cukup banyak, dan Lucy tidak mungkin melakukannya. Maka dengan pengendali waktu di tangannya, Rider   menghentikan waktu selama 10 menit, waktu maksimal bagi mesin itu bekerja menghentikan waktu.
Dan rencana kedua. Pemanggil kehidupan. Mantra itu sudah dia pelajari sejak sebulan yang lalu. Saat semua orang mengisi waktu senggangnya dengan bermain dengan ikan berkepala naga, Rider justru memilih mempelajari mantra pemanggil kehidupan. Iya, dan sekarang berguna.
Lima menit sepuluh detik..
Enam menit tiga belas detik..
Seekor burung gagak datang membawa setangkai Bunga Fuchsia. Iya, bunga keabadian! Di dunia sihir, mencium aromnya saja bisa menyembuhkan luka akibat hewan peliharaan yang buas, seperti semburan api dari ikan berkepala naga. Apalagi bisa membumbuinya dengan mantra-mantra sesuai petunjuk buku tua. Dan Rider melakukannya. Dia berhasil menciptakan ramuan. Aromanya menyengat, berwarna merah keunguan. Sembilan menit 12 detik..
Rider segera menumpahkan ramuan itu di atas kepala Lucy yang mengalami pendarahan. Dalam beberapa detik kepala dengan darah itu mengeluarkan asap yang mengepul. Pertanda baik. Sepuluh detik tersisa.. Lucy masih mengerang kesakitan.
“Bertahanlah Lucy,, bertahanlah... kau pasti selamat”
Lima detik bersisa...
Empat detik ...
Tiga detik..
Dan sepertinya Ratu Langit sedang berbaik hati. Mantra pemanggil kehidupan itu berhasil!! Iya berhasil!! Tepat di satu detik terakhir mesin pengendali waktu bekerja. Lucy sadar, dan dua lubang besar di kepalanya kembali utuh. Tidak ada lagi darah yang mengalir. Tidak ada lagi kesakitan. Benar-benar sihir yang sempurna. Rider, di usianya yang masih muda, berhasil melakukan sihir yang tidak dilakukan penyihir dewasa sepanjang sejarah.
“Raid ... Kamu ada disaat yang tepat. Itu adalah detik-detik kematianku yang kemudian ditunda karena kehadiranmu. Aku sangat berterima kasih Rider” ucap Lucy. Tulus.
“Ahh sudahlah, bagaimana kamu bisa disini?” tanya Rider  .
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada disini Rider? Tapi apapun alasannya, ini benar-benar kebetulan yang luarbiasa. Ah iya, tadi aku ada di dekat gua di sebelah sana, lalu monster ini muncul bersama seorang anak kecil yang sepertinya mengalami luka dalam yang sangat parah karena sihir, awalnya dia baik. Aku mencoba memanggilmu untuk menyembuhkan dia, karena kamu tahu kan sihirku masih tidak seberapa? Lalu aku mencoba mengingat mantra pemanggil tapi justru menjadi mantra lain, dan sempat membuat bocah kecil disana terangkat dan terhempas ke tanah. Mungkin monster ini marah, dan tiba-tiba saja dia berubah menjadi sangat menyeramkan seperti ini. Aku tidak tahu arah lain, selain berlari ke arah pantai,” Lucyana menjelaskan.
“Kamu tahu ini sudah memasuki waktu senja, kepala sekolah pasti menghukummu jika tahu kamu di pantai di waktu senja. Kamu masih ingat kan peraturan di sekolah sihir?” Ucap Rider  .
“Aku benar-benar panik Rider. Maafkan aku”  
“Lupakan itu Lucy, kamu belum tiba di pantai dan itu belum menjadi pelanggaran. Bahkan aku juga memakai mantra pemanggil kehidupan, bukankah itu mantra paling dilarang di dunia sihir? Apalagi untuk penyihir cilik seperti kita.” ucap Rider setengah bergurau.
“Ini akan menjadi rahasia kita.” Lucyana tersenyum.
“Omong-omong tadi kamu bilang bocah? Dimana dia? Sihir itu mungkin bisa disembuhkan dengan bunga keabadian.” sambung Rider  . 
“Sebelah sana. Tapi kembalikan dulu monster ini seperti semula Rid. Bentuk ini terlalu menyeramkan untuknya, bukan?”
Okey,” ucap Rider menyipitkan mata.
        Mereka kembali memasuki hutan, oh tidak bukan hutan, tapi tempat yang mirip seperti hutan. Hutan dengan pohon tanpa daun, sama-sama dihuni oleh hewan, tapi hewan-hewan dengan tubuh dua kali lebih besar dari tubuh hewan di hutan biasa.  Mereka tiba. Anak kecil tadi masih terbaring di tempat semula, kemudian Rider mengeluarkan tongkat sihirnya. Lucy menjadikan tongkat sihirnya sebagai pelita, sementara Rider menggunakan tongkatnya untuk menolong bocah tadi.
Florentewer,” kemudian keluarlah bunga Fuchsia dari ujung tongkatnya.
Rider mencampurkan bunga Fuchsia itu ke dalam air murni yang diberi mantra. Kemudian dia menyiram  seluruh tubuh bocah malang itu dengan airnya seperti yang dilakukannya pada Lucy.
Lovelity Deapemio.”
Bocah itu pun menyadarkan diri. Normal. Kembali seperti semula. Bocah itu, tanpa bertanya, langsung mengetahui dua orang di depannya pasti berasal dari dunia sihir. Penampilannya terlalu unik untuk disebut ‘manusia’. Sementara Rider dan Lucy tak sedikitpun menyadari bahwa anak kecil di depannya, adalah anak dari kepala sekolahnya di sekolah sihir.
Senja semakin menghilang di ufuk barat. Sudah saatnya kembali. Rider   dan Lucy merangkul anak kecil itu, menembus dinding sihir. Kembali ke dunianya. “Pulau ini terlalu berbahaya untuk kaum ‘aneh’ seperti kami”__Lucyana.
Setibanya di sekolah, Rider   dan Lucy mendapat penghargaan dari kepala sekolah, atas kecerdasan, keberanian, dan kejernihan hati untuk menolong. Maka kehidupan kembali normal, bersekolah seperti biasa, mempelajari sihir, ramuan, dan tingkah-tingkah aneh binatang piaraan. Meskipun tidak menutup kemungkinan, monster itu datang dengan kekuatan yang lebih besar. Tapi keberanian bahkan mampu menembus waktu, mencakar langit, memanggil kehidupan__.