Jumat, 18 September 2015

My Fav.Holiday – KEBUN RAYA BOGOR – Full Of History


           Haii guys, , selamat pagi :) Masiih semangatt nggak?? Haruss masih dong!! Soalnyaa orang yang nggak  semangat itu hanyalah orang-orang yang tidak bersyukur sama Allah. Well, kita nggak termasuk golongan itu kan? Aamiin Insya Allah nggak yaaa <3
Mmm, pagi ini rasanyaaa emanng agak beda, rasanya sepertii waktu yang pas banget buat nostalgia gituuu . Hehehe
            Yess,, 2 tahun sudah perjalanan itu berakhir, tapii kesannyaa masih terassa sampai sekarang. Aku nggak tahu kenapa dari semua liburan yang pernah aku lakuin, liburan ini paling mengesankan. Mungkin karena liburannyaa disaat kita emnng butuhh hiburan (?)  Atau karena liburannyaa setelah nyelesaiin tugas. Atau mungkin karena  aku gak pernah lagi kesana (?) Oke abaikan!!
Jadii, dulu di tahun 2013,, tepatnyaa di bulann Oktober. Aku sama teman-teman dari Lombok, namanyaa Rita sama Pertiwi jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Ditemani sama Bu Yuni jugaaa siih,, hehe. Di sanaa itu luasss buangett ternyataaa (meskipun namanyaa kebun). Hehe..
Saking luasnyaaa (lebih kurang 87 hektare) kitaa gak bisaa nelusurii semuanya, cumaa ke beberapa tempat ajaa,, yaaaiyaalahh !!! Siapa  jugaa yang mau kelilingi 87 hektare,, bisa-bisaa mobilnyaa kehabisan bahan bakar di tengah hutan ,wkwk :D 
Oke fine, jadii aku ceritanyaaa yang aku liat ajaa yaa ;)
Tapiii mau cerita apalagii yaa?? Aku gak berbakat cerita-cerita :D Umm,, pohonnya? Guede-guedee broo..  jadii disana itu banyak pohon yang usianyaa udah berabad-abad. Kalo udah berabad-abad, berartii ditanamnyaa sama siapa dong? Yess Belanda. Tapii nggak tahu yaaa ditanamnyaa pas kekuasaan siapa, nggak tahu itu, hihi
Disana pohonnyaa  juga rindang-rindang , membuat hati jadi melayang, eh *salah fokus __
Oiyaaa,, ini nih fotoku sama Ita sama Tiwi passs di Pohon apalah namanyaa :D
Pertiwi, Nuraini, Rita 


Disanaa, kita jugaa liat patung-patung ahli botani, aduuh tapi namanyaa siapa ya? Astaga, aku lupa atau gak niat inget sih? :/ hehe,,, ,, tapiii patungnyaaa,,,kece bangett pokoknya.
Kebun Raya Bogor ini, letaknyaa berdampingan sama Istana Bogor, cuma dibatasii sama tembok doang. Tapii sayangnyaaa kemariin kita nggak dikasiih izin masuk Istana Bogor, soalnyaa itu kita gak pake surat izin,,,lagian kita emang gak niat kesanaa gimana mau nyiapin surat ijin,,bapaknyaaa pelit ihh padahal kan kita cuma mau belajar lebih banyak tentang sejarah Indonesia. Alhasil, cuma bisaa foto di Kawasan Kebun raya, tapii backgroundnyaaa tetep Istana Bogor,, hihi :p
By the way,, ini modelnyaaa Ita loh,,,, hahahahaha
Sorry ta :D Fotoku kehapuss eeyyy L
Ita 


Well, untungnyaa kita ditemani sama Bu Yuni teruss dijelasiin deh tentang Istana Bogor <3
Jadi Istana Bogor itu dulunya bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran”. Aku juga gak tahu siih kenapa namanya ‘tanpa kekhawatiran’, agak gak nyambung gituu yaa,, haha
Nah sejak tahun 1870 sampai 1942 ternyata Istana Bogor ini dijadiin kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Inggris. Sebelumnya, pada tahun 1744 seorang Gubernur jenderal (lupa dari mana tapii kayaknya dari Belanda,hehe) yang namanyaa Gustaaf Willem Baron Van Imhoff terkesima sama kedamaian sebuah kampung kecil di Bogor, sebuah wilayah bekas Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia. Nah teruss Van Imhoff ini punya rencana membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Sehingga pada bulan Agustus tahun 1744 Istana Bogor ini mulai dibangun dan berbentuk tingkat tiga. Awalnya siih cuma dijadiin tempat peristirahatan. Berangsur-angsur, seiring berjalannya waktu perubahan-perubahan bangunan dilakukan pada masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris, sehingga yang tadinya merupakan rumah peristirahatan berubah menjadi bangunan istanana paladian dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektare dan luas bangunannya 14.892 m2.
Namun, musibah datang pada tanggal 10 Oktober 1834. Gempa bumi mengguncang akibat meletusnya Gunung Salak sehingga istana tersebut rusak berat. Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun kembali dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.
Dalam perkembangan selanjutnya, Istana Buitenzorg ini jadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Adapun penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarva Starkenborg  yang pada akhirnya harus menyerahkan istana itu kepada Jenderal Imamura,pemerintah pendudukan Jepang.
            Nahh,, akhirnyaa pada tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu Istana Presiden Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnyaa Istana Bogor ini diperbolehkan untuk dikunjungi baik dari dalam maupun luar negeri dengan persetujuan Presiden Soeharto. Jadii banyak bangett yaa tempat-tempat resmi yang merupakan peninggalan bangsa penjajah, berarti bermanfaat juga dong kita dijajah? Hehehe :v
Nahhh kalo yang satu ini pasti masih familiar kan??  Ayookkk masa nggak tahu??
Iyepp,, tanggal 9 Juli 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  melangsungkan pernikahan anaknya, Agus Yudhoyono dengan Anisa Pohan di Istana Bogor Zeron. Kereen bangett (lebih tepatnyaa ngareep,wkwkwk)
And Then,,,, 
DI TAHUN 2013, KITA MELAKUKAN KUNJUNGAN KE KEBUN RAYA BOGOR, DAN TIDAK DIPERBOLEHKAN MASUK :D Hahahaha

Oh yaa,,, kita cuma bahas histori dan nggak bahas gimana isi dalamnnyaaa soalnyaa kembali ke kalimat diatas.
Eh daritadii kita malah fokus ke Istana Bogor ajaa yaa,,, okee mau tahu sejarah singkat Kebun Raya Bogor??  Yieppp ini  diaa :D

Jadiii,,,,, dulu itu Kebun Raya Bogor masih berupa hutan buatan atau taman buatan. Hutan buatan ituu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih kayu yang langka.
            Nah,, pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor tadii punya minat yang besar banget dalam botani, ia tertarik untuk mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, Raffles menyulap halaman istana ini menjadi taman bergaya Inggris klasik. Nahh inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang. Keren kan : ))))

Oiyaa,,, sekitar tahun 1814 istri dari Gubernur Jenderal Stamford raffless yang bernama Olivia Raffles meninggal dunia, teruss dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, maka di bangunlah monumen yang didirikan di Kebun Raya Bogor. Nahh ini nih,, foto momumen yang ada di Kebun Raya Bogor,,  menggugah hatii kalo diliat sist,, mungkin karena bersejarah kalii yaahh <3 


          Mmm.. Dan inii,, pada tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor inii resmii terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor. Pada awalnyaa kebun ini hanya dijadiin sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Namun pada perkembangannya jugaa digunakan sebagai wadah penelitian ilmuan pada zaman itu. Yahhh sekitar tahun 1880 sampai 1905 kalo nggak salah :D

Aduuh,,, ceritanyaaa panjangg yaah,,, ini ceritaaanyaa siih tentang liburanku, tapii kan pas aku liburan aku dapat ilmunyaaa juga,,, so aku share semuanyaaa gak papa yaaa?? Hehe, sambil menyelam minum air :D 


Okeyy,,,  segituu ajaaa penjelasannyaaa tentang Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Semogaa bisaa kesana lagii, soalnyaa udaranyaa benar-benar nyaman, sejuk. Di ruangan gak pake AC ajaa udah dingin, jadii benar-benar hemat energi,, duuuh lope-lope begete <3 

Dan akhirnyaa,,, saatnyaa kembalii ke kediaman :D Ohiyaa lupaa ceritaaa yoo ... kita berempat nginap di Royal Safari Garden Hotel & Convention, jadii kalau kamu ke Bogor, tepatnyaa ke Cisarua, hotel ini recomen bangett pokoknyaa ({}) Super duperr nyaman,, mulai darii pelayanan, makanan, fasilitas, dan semuanyaaa Insya Allah betah pake bangett :D Dan disana jugaa ada kawasan olahraganya,, kitaa bisa sepedaan, renang,, jogging,, semuanyaaa lengkap ,hehehehe.
Aku udah coba semuanyaa kecuali renang yaa,, jangan tanyaa kenapaa. Aku gak iso renang broo.. hihi
Bu Guru, Ita, sama Tiwi 
Mmm,, aku jadi kangen buangetttt sama semuanyaa,, terutama sama Bu Guru, Ita sama Tiwi. Sekarang kitaaa udah gak pernah ketemu,hikzz. Ita udah sibuk di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tiwi udah sibuk di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, dan aku??? Hehe, aku sibuk-sibuk juga di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Mencarrr yaaa semuanyaa,,, but well,,, suatu saat kita Insya Allah bakal bekerja sama karena profesi kita saling terkait,, iya nggak?? MISS YOU SO MUCH ITA, TIWI, dan BU GURU : )



Ini sayya di taman hotel :D 




Ya udah deh,,, kayaknyaa udah kepanjangan,,hihii :D Semogaa secepatnyaa bisa berkunjung ke tempat-tempat menariik lainnyaa <3 Dan kitaa ketemu disana yaa guyss *dimanaSeh (?) Gj,,wkwk  

Okee finally...
Sampai disinii ajaa yaaaa
INI CERITAKU, MANA CERITAMU ???





Jumat, 11 September 2015

IKLAN PALING BERKESAN ???? :/


  
Well,,, tadii kita kan sudah bahass iklan yang paling GJ alias paling GAK JELAS, hehehe..
Nahh sekarangg pembahasannyaa adalah iklan yang paling berkesan : )))
Okeyy,, langsung ajaaa yaaa... 

menurut saya, 
 iklan yang paling berkesan ituuuu ...

adalah iklan pepsodent. Iklan ini sudah lama sekali, semenjak saya masih SD tapii masiih ingatt (saking berkesannya yaaa). Dia itu menceritakan bagaimana gigi berlubang yang berbahaya bagi kesehatan. Dalam iklan itu disusun benda seperti kotak kecil berwarna putih, yang menceritakan bagaimana gigi itu tersusun dan mengandung kalsium. Kemudian mereka  mengambil salah satu diantara kotak yang berada di tengah, sehingga terbentuk lubang dan akhirnya susunan itu runtuh hanya karena satu kotak yang hilang.
Menurut saya iklan ini sangat berkesan, karena ini menceritakan kekompakan dalam suatu tim. Bahwa kotak-kotak kecil yang tersusun tadi di ibaratkan seperti manusia-manusia ( yang merupakan makhluk kecil), kemudian disatukan sehingga mampu membentuk suatu benteng yang sangat besar dan sangat kuat. Namun, satu saja diantara sekian banyak kotak kecil itu yang diabaikan, tidak diperdulikan posisinya, atau diambil, dihilangkan begitu saja, maka seluruh kotak yang tersisa, meskipun ada begitu banyak kotak, akan  menjadi tidak berguna, hancur dalam seketika.
Sehingga dalam suatu tim itu, harus benar-benar solid, harus benar-benar saling memperdulikan satu dengan yang lain, karena sesungguhnya hal-hal kecil yang disatukan dengan posisi yang tepat akan menjadi kekuatan yang sangat kuat dan besar..

PS: Videonya gak nemuu di youtube,, hehe. mungkin karena udah lama bngettt kalii yaahhh ,,, ya udah liat video yang ini aja yaa :)) Kalo kamu nemu video yang saya maksud,, jangan lupa di share yess :))  
Check it  now :)))  
https://www.youtube.com/watch?v=m2edwVmXEaE



KALO KAMU ??? 

IKLAN PALING GJ (JUST OPINION)


Just An Opinion 


Pada suatu hariiii ,, kamu sama teman kamu sedang asyik-asyiknyaa nonton film,,, tiba-tibaa....


.....IK__LA__N....

Yaahhhh ____
Aiiiiihhhhhh
Uuuuuhhhhhhhhhh
Do you like “iKlan” ?

Hmmmm,,
Tergantung,, KALO GAK GJ !!! right?
Nahhhh ngomong GJ, ,,,
Iklan Yang Paling GJ menurut kamu itu apa siihh ? 
Well...
Kalo menurut saya siih yaa...

Iklan yang paling aneh  itu adalah Iklan Okky jelly drink.
Iklannya gini, ada beberapa orang yang sibuk sama kegiatan mereka OL. Ada yang lagi twitteran dari handphone, ada yang lagi ngetik di laptop, dan lain-lain. Terus tiba-tiba ada icon muka cemberut di atas kepala masing-masing, mereka berteriak lapar sama haus. Terus tiba-tiba ada oky jelly drink keluar dari monitor laptop sama handphone mereka, JLEB!
Bukannya saya jadi suka sama okky jelly drink, saya malah jadi takut buat OL setelah liat tuh iklan. Saya gak bisa ngebayangin gimana pas saya lagi OL dari komputer tiba-tiba nongol Okky Jelly Drink dari dalam monitor komputer terus nimpuk muka saya, mending kalo Cuma satu, kalo ratusan? Parahya, di ending tuh iklan, orang-orang yang tadinya di datengin Okky Jelly Drink melalui monitor  laptop sama handphone mereka itu tiba-tiba joged gak jelas sambil pegang Okky Jelly Drink.


Oalaaahhh,,, GJ yah?



Kaloo gak percaya,, liat yess  di you tube,,


Minggu, 06 September 2015

Aku,Mereka,dan Delapan tahun Lalu

Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi 

Dan aku memulainya. Aku memulai untuk kesekian kalinya. Kutuliskan cerita tentang dia, tentang mereka.  Yah,mereka  yang terus menerus menjadi idola yang tak pernah kutahu ujungnya. Hari ini aku merasa begitu bahagia. Bahagia. Tak tahu mengapa dan jangan tanyakan aku kenapa. Karena jawabannya aku tak tahu sama sekali. Aku tak tahu begitu banyak tentang dia. Tentang mereka.  Tetapi aku cukup berbakat untuk bisa mengetahui perasaaan seseorang “hanya” dari kalimatnya.  Hari yang tak terduga. Tak pernah terduga.
          Mungkin begitu membosankan bagimu. Bagi sebagian (besar) orang. Tapi sungguh tak pernah membosankan bagiku.
“Kak Liyee???” sapa seorang anak berseragam SMA yang bisa kupastikan dia anak kelas X. aku lupa siapa namanya. Yang jelas aku mengenal wajahnya. Wajah-wajah yang dulu sering menyapaku ketika masih duduk dibangku SMP di SMPN 1 Mewa.  Sudah lama sekali aku tak pernah bertemu dengan teman-teman kecilku, aku kangen mereka. Kangen. Mungkin karena dua tahun terakhir ini aku terlalu sibuk dengan kesibukanku yang  tak pasti? Entahlah. Aku tak tahu. Yang kutahu ada rasa yang begitu tak bisa kujelaskan saat kembali melihat mereka yang selama dua tahun terakhir ini sudah tak pernah kutemui.

“Hallloo” sapaku bersemangat walau aku sedikit lupa siapa dia. Tapi setidaknya aku ingat bahwa dia adik kelasku waktu di SMPN 1 Mewa.  Kecepatan motor kami yang melaju dengan kecepatan masing-masing (kecepatanku hanya 40 km/jam, itu pun mungkin kurang. Aku tahu kecepatan dia berapa, aku tak melihat) membuat momen indah itu hanya berlangsung sepersekian detik. Pertemuan singkat yang  membuka lembaran tentang masa-masaku bersama mereka. 

Sudah lama sekali aku tak pernah berkeliling kampung. Begitu lama hingga tempat ini terasa begitu asing bagiku. Asing, tak seasing orangnya.  Sebenarnya hari ini bukan jadwalku berkeliling, atau jalan-jalan lebih tepatnya (karena aku tak punya jadwal jalan-jalan, bahkan tak pernah).  Aku hanya mengantar Bibiku ke suatu tempat. Aku tak tahu apa urusannya. Aku hanya berhak tahu aku mengantarnya. Itu saja. Sebenarnya bukan aku tak punya waktu sama sekali untuk berjalan-jalan walau 5 menit berkeliing kampung. Tapi aku memang sangat malas untuk berkeliaran tak jelas layaknya anak-anak yang sering nongkrong (sambil merokok tentu saja)  di jempatan setiap sore, tak jelas maksud dan tujuannya.  Aku bahkan selalu mengutuk mereka tiap kali aku melihatnya tanpa “manfaat” di atas jembatan yang menghubungkan kampungku dengan kampung sebelah. Kampung salah seorang temanku yang satu sekolah denganku. Walau sebenarnya hipotesisku tentang ‘ketidakmanfaatan’ mereka tak sepenuhnya benar untuk diargumenkan. Karena pada kenyataannya, mereka seperti itu Karena memang lingkungan yang telah memaksan mereka membentuk karakter yang begitu liar dan buas. Aku merinding, karena aku pun pernah mengalami masa-masa kritis andai salah selangkah saja aku mungkin akan seperti mereka.  Ah, tapi fokusnya bukan ini. Nanti saja kuceritakan bagian ini kalo aku lagi berbaik hati mau menceritakannya.

          Sore itu langit sedikit mendung, tapi hari begitu panas. Perubahan iklim mungkin telah banyak berpengaruh dengan perubahan suhu sore hari ini.  Pekerjaan mengantar Bibiku sudah selesai.  Yah, perlajanan inilah yang menyenangkan. Mungkin karena aku sudah lama tidak pernah melihat kampungku. Aku kangen tempat ini. Tanah kelahiranku yang sering kali tak pernah ku tahui kabar baik dan  buruknnya.  Dalam perjalanan yang kedua, aku bertemu temanku Johan.  Teman sekampung yang bertemu setahun sekali. Aku menyapanya dan memberikan senyum, tulus. Semata-mata karena aku merindukan mereka semua.  Rasa rindu yang sudah tak dapat terbendung. Dia membalas senyumanku walau terlihat jelas rasa malu. Mungkin malu karena sudah lama sekali kita tidak saling menyapa (karena memang jarang bertemu, kalau bertemu pasti menyapa ) jadi semuanya terasa seperti ada gap yang membatasi aku dengan temanku itu. Aku tak tahu. Mengingatkanku, delapan tahun yang lalu.  Ketika kita masih duduk dikelas 4 SD. Yahh, kejadian yang tak akan pernah aku lupakan.  Waktu itu ibu guru memberikan kita tugas mencatat. Dan aku dipercaya oleh teman-temanku sebagai orang yang bagus (lebih tepatnya rapi)tulisannya, aku pun menjadi ‘korban’ penganiayan tidak langsung yang secara telak langsung mengenaiku. Bagaimana tidak. Mereka sekian banyak entah mengapa seperti telah bersepakat. Selalu aku dan aku. Ah, menjengkelkan juga terkadang. Aku tak pernah menyukai pekerjaan itu. Karena di depan kelas aku akan berhadapan dengan ‘manusia’(mungkin fisiknya saja yang manusia) yang super duper jahil. Aku benci sekali. Aku juga yang akan menjadi penanggung jawab bagi siapa saja yang ribut selama mencatat. Aku pun harus mengulang semua catatan itu di rumah sendirian. Tapi bukan itu sih sebenarnya yang buat aku setengah mati benci mencatat di papan tulis. Tak lebih tak kurang adalah gara-gara manusia superjahil yang kukatakan tadi. Bahar namanya.  Aku tak bisa menjelaskan baik buruk tentang dia. Aku hanya bisa menjelaskan kegiatannya yang sepanjang jam sekolah, di kelas ,di lapangan dan dimana saja kerjaannya hanya menggangu orang dan membuat para siswi  menangis (kecuali aku). Berkata jorok, hal yang paling dan sangat tidak aku suka. Apalagi hobinya dalam membuat onar dikelas, si Bahar ini adalah ketuanya.  Namun dukungan teman-teman sekelas bahwa aku yang harus mencatat memang tak bisa kukalahkan seorang diri. Bagi mereka tugas mencatat itu adalah tugas kehormatan dari guru, dan aku yang harus melakukannya. Kata mereka. Itu kata mereka. Menurutku tak ada kehormatan sama sekali. Sama sekali tak ada yang harus diangggap kehormatan. Tapi aku benar-benar tak kuasa untuk melakukan pembelaan terhadap diriku sendiri. Jumlah mereka terlalu banyak untuk perang perdebatan ini. Sungguh tak adil. Aku pun mengalah.

      Aku mencatat dengan tenang tanpa ganguan dan hambatan selama sepuluh menit belakangan. Aku juga fokus pada bacaan yang akan kucatat. Jadi sambil mencatat aku juga membaca dan memahami maksudnya sekaligus. Aku sudah begitu bersalah dengan Bahar. Dia bahkan tak menggangguku. Aku senang sekali. Aku melihatnya mencatat.  Mungkin juga karena takut di buly sama teman-teman yang lain jika berani menggangu orang yang sedang mencatat. Terlebih karena perdebatan panajang tadi.
Tak ada angin tak ada hujan, tapi tiba-tiba,..
Konsep pemikiranku langsung berubah sepersekian detik saat aku tiba-tiba melompat kaget. Dia datang dari belakangku dan dengan jahilnya langsung memberikan surprise yang sangat tidak menyenangkan. Gimana kalo aku punya penyakit jantung? Apa orang yang gak bertanggung jawab seperti dia bisa mengatasinya? (sebenarnya aku tak mengerti mengapa aku begitu membenci si Bahar ini, mungkin karena hal-hal lain yang sering dia lakukan padaku. Membuat kesalahan sekecil apa pun pasti besar dimataku).
“yeee, dasar nenek gombel. Ganggu dikit aja langsung ngomel” dia tertawa dan berlari ke belakang. Aku memanas. Tapi aku tak mau terpancing. Aku tak ingin membuat kelas menjadi ramai karena kompetisi antara aku dan Bahar. Tapi kemudian beberapa menit kemudian, dia datang. Kali ini aku menyadari kedatangannya. Aku sebagai orang yang diamanatkan untuk menjaga ketertiban kelas harus berusaha sebisa mungkin mengatasi perilaku aneh si Bahar ini. Walau aku bingung. Bagaimana mungkin ibu guru menitipkan amanat pada seorang anak SD yang masih berumur dua belas  tahun untuk mengemban amanat seberat ini? Menghadapi ketua pembuat onar yang guru saja hanya kepala sekolah yang ia segani? Oh Tuhan, bantu saya.
“Bahar, kalau kamu tidak mencatat aku lapor ibu Guru” ucapku padanya dengan tatapan yang begitu sinis dan sadis. (ini berdasarkan komentar teman-teman yang melihatnya, haha. Tega juga aku).
“Tenang, santai.!!!  Mau aku ganti?” dia mengambil spidol ditanganku tanpa harus menunggu persetujuanku yang jelas-jelas akan menolaknya. Jangankan temannya yang baca, disuruh baca ulang tulisan sendiri saja tidak pernah bisa. 
“Sembarangan betul!!! Kembalikan.. aku harus selesaikan mencatat. Ibu Guru bilang harus selesai” sanggahku sambil mempeributkan spidol yang saat ini sedang dikuasainya. 
“Ambil saja kalo bisa,, weekkkk!!!!!!!!?? Katanya menjulurkan lidah dan sedikit menjauh dariku. Telak langsung mengena. Rupanya dia tahu aksi panas memanasi itu tak akan membuat aku  panas hanya dengan kata-katanya. Dia pun mulai beraksi dengan jurus andalannya. Merebut apa pun yang menurutnya perlu direbut. Terjadilah perang mulut yang begitu membuatku sakit hati. Dia yang memulai semuanya. Aku yang terlanjur benci dengannya, sebagai anak-anak SD  aku tahu kebencian itu muncul karena dia selalu menggangguku. Mulailah keluar berbagai perkataan yang membuatku tersinggung. Tapi aku mencoba bersabar. Aku benar-benar bersabar walau hatiku benar-benar panas. Tapi terakhir, kata terakhir yang benar-benar membuatku tak bisa lagi menahan amarah. Dia menyingung ibuku. Ah, masalah sensitif itu kembali disebut. Aku tak akan pernah bisa menahan tangis jika dia mengatakan hal itu. Aku benci. Aku sungguh membenci hari itu. Termasuk dia. Bahar musuhku satu-satunya.  Mungkin dia juga berperasaan sama sepertiku, tentang kebencian ini pastinya. Buktinya dia terlihat begitu bahagia melihatku mulai down. Jurus-jurus selanjutnya mulai dilayangkan. Dia mencolekku menambah panas dalam hatiku. Aku, aku sunguh kesal pada manusia satu ini. Aku sudah tidak bisa menahan amarah. Aku marah semarah-marahnya. Dia menyebut masalah ibuku. Aku bahkan tak pernah ingin tahu dan mendengar. Tapi dia malah datang seperti membongkar kuburan yang telah bertahun-tahun dikuburkan. Mengusik ketenangan. Mengundang peperangan.
“Bahaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?????????!! Suaraku terdengar panas. Seisi kelas hanya bisa terdiam melihat “drama” anatara tokoh antagonis (aku menempatkan posisi ini lebih tepatnya di Bahar. Karena walaupun mungkin aku salah, tapi dia yang selalu memulai duluan), dan tokoh protagonis (sudah pasti aku, karena hanya ada aku dan dia dalam drama ini).  Semuanya diam, tak bergerak, yang bergerak jadi berhenti bergerak. Yang tak bergerak tambah mematung.  Bahkan lucunya mereka. Mereka menghentikan gerakan dan tak merubah posisinya sama sekali, cutting. Dan ini benar-benar telihat seperti drama. Tapi ini bukan drama. Ini nyata antara aku dan Bahar. Antara hitam dan putih. Antara hidup dan mati. Harga diri yang dibawa mati. Dia juga diam, tak bergeming.
“Kamu Bahar. Si Bahar anak jago. Jago yang dijago-jagoin sendiri. Aku benciii kamuuuuuu!!!!!!!!!!?????????? Sungguuh, manusia terburuk di dunia ini adalah kamuuuuuuuuuuuuu??!!! Yaaahhhh kamuuuuuuuuuu!!!!!!! Bodoh, dekil, bau, sok-sok ngatur semua. Siapa kamuuu????????????!!!!! Hah?? Mentang-mentang kamu cowok disini. Terus kamu seenaknya ngejahilin kami. (aku memakai kata kami, karena memang kami yang siswi sangat sering menerima perlakuan menyebalkan dari si Bahar)pokoknya aku dan semua teman-teman pasti ngelaporin kamu sama Bu Guru. Awas saja kamu. Tunggu saja. Aku beeennciiiiiii kamuuuuu!!!!!!!!!!!!”  aku tak tahan lagi. Air mataku jatuh. Aku membenci hari itu. Aku tak pernah membenci Bahar sehebat ini. Ini semua murni kesalahannya. Kelas sedang hening tapi dia malah mengahancurkan keheningan itu, menambahnya dengan berbagai bumbu pedas yang menusuk hatiku. Sungguh tertusuk. Tertusuk begitu dalam. Dia sekali lagi, terus dan berulang ,menyebut sebuah hal sensitif yang sudah jelas dia tahu itu membuatku panas, sedih, kecewa, dan seribu perasaan yang tak tertepikan.  Dia hanya terdiam. Menyadari aku mulai marah semarah-marahnya. Dia diam. Tak bergeming. Aku mendekatinya. Berkata, pelan dan lirih.
“Jangan pernah menyebut ibuku”.
***
Suasana tak senyaman tadi.  Semua ini gara-gara si Bahar. Si pembuat onar yang mengundang kemarahanku. Aku sudah tak fokus lagi mencatat di papan tulis. Berkali-kali temanku meminta menggantikanku. Tapi aku menolak. Sikap egois anak-anak masih tetap melekat dalam diriku. Walau tulisanku banyak yang salah. Dan teman-temanku selalu memperbaiki. Mereka tak pernah marah. Mereka benar-benar mengerti bagaimana perasaaanku. Terutama  teman-teman yang mengetahui kisahnya. Yah. Mereka begitu teman yang menyenangkan (kecuali si Bahar tentu saja).  Aku menulis namun dikepalaku masih berkumandang kata-kata tajam yang begitu menusuk. Aku kangen ibuku. Sampai-sampai aku tak sadar telah menumpahkan semua  rasa kesal  pada Bahar pada tulisanku di papan tulis. Aku menulis sebuah kalimat dan tepat dikata “mata” aku menuliskannya besar sekali. Hampir seperempat papan tulis.  Aku tak sadar. Sungguh aku benar-benar tidak sadar apa yang kutulis.
Namun ternyata, aku balik ke belakang. Dan Johan. Temanku menangis tiba-tiba. Aku bingung. Teman-teman yang lain tertawa. Si Bahar apalagi. Walaupun ketika pandangan tepat mengarah ke dia. Dia langsung vakum, diam seribu bahasa. Entahlah. 
“Kenapa nangis Jo” tanyaku yang sudah selesai mencatat dan langsung duduk di bangku.
Dia nangis. Aku juga bingung. Bagaimanamungkin orang-orang bisa berkata laki-laki sulit menangis? Buktinya, Johan temanku menangis begitu saja tanpa sebab yang pasti. Sungguh aneh dan tambah aneh.
“Si Bahar ganggu kamu Jo?” tanyaku lagi karena pertanyaan pertama tak dijawab.  Dia tidak berkata. Dia hanya menatapku.  Aku yang mungkin terlalu cepat berpikir dewasa mencoba berpikir. Mungkin Johan lagi sedih. Itu saja.
“Hahahaha..kasihan kamu Jojo. Hahahaha” suara si Bahar terdengar dari belakang. Aku tak mau menghiraukannya. Tapi suara isakan Johan semakin keras dan aku pun harus menanyakan untuk yang ketiga kalinya. Mana mungkin aku tega melihat temanku menangis sendiri dan si Bahar, anak super menyebalkan itu menertawakannya. Tidak mungkin.
“ Jo, kalo kamu gak mau cerita gak apa-apa. Tapi kamu nangis bukan karena aku kan?” tanyaku padanya yang sudah jelas tak punya masalah atau salah sedikitpun dengannya. Karena setiap hari aku selalu bermasalah. Yah bermasalah. Bermasalah dengan ‘berandal’ satu itu.  Satu-satunya musuhku.  Johan menatapku kosong. Seperti ada sesuatu yang membuatnya marah. Sama seperti tadi yang kurasakan. Tapi dia terlihat lebih cengeng. Mungkin karena keseringan bermain dengan perempuan jadinya psikisnya menjadi lebih seperti  perempuan(bukan perempuan, tapi halus seperti perempuan) .
“Liye, Johan ngambek liat tulisan “mata” kamu tulis dipapan tulis besar-besar. Matanya dia kan besar. Kata si Bahar tulisan mata itu besar kayak matanya Johan” kata Hasty memberikan penjelasan. Penjelasan yang cukup membuatku paham. Dan kembali kutatapi si Bahar, kali ini tatapanku tajam setajam silet. Seperti srigala yang siap mencekam.  Dia merasa gentar. Tak bergeming. Lagi.
“Apalagi maumu? Bahar si anak JAGO?”
***
Johan tersenyum padaku. Seolah sudah melupakan semua kejadian delapan tahun lalu. Tak mengingatnya. Sama sekali. Namun dikepalaku. Semuanya masih tergambar begitu jelas. Sejelas kesaksiannya bahwa akulah pembuat onar yang membuatnya menangis. Yang menuliskan tulisan ‘mata’ besar-besar sebesar matanya. Kata temanku.
Aku pun berlalu. Meninggalkan kampungku yang sempit. Sederhana dan damai. Sedamai jiwaku saat ini. Masa lalu yang akan menjadi kenangan. Bukan kenangan pahit tentunya. Melainkan kenangan penuh suka yang dialami anak dimasa SD secara ‘wajar’ bersama teman-temanku. Aku merindukan mereka. Aku merindukan delapan tahun lalu. Aku sudah tak pernah melihat si Bahar. Yang menurut hipotesisku delapan tahun lalu adalah ‘anak pembuat onar’, ‘musuhku’, semuanya begitu menyenangkan. Kini  aku sudah lebih dewasa untuk mengerti. Untuk memahami. Memahami beribu kisah yang tak akan pernah berakhir di bangku sekolah. Persahabatan dan cinta. Yang tak bisa diterjemahkan kedalam bahasa  apapun. Hanya bisa dimengerti oleh mereka yang  memiliki arti tentang makna hidup, persahabatan yang akan tetap abadi. Persahabatan bahwa sebenarnya tak ada dia, tak ada aku, tak ada kamu, tak ada siapa pun. Yang ada hanyalah kami. Aku begitu merindukannya. It’s not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages,FriedrichNietzche.  Rindu. Aku, mereka, dan delapan tahun lalu.

***

Sabtu, 05 September 2015

* Anemone *

Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi 



Jika hidup ini adalah cinta, maka salahkah aku ingin selalu memiliki cinta?
Jika hidup ini adalah pilihan, maka salahkah jika setiap orang memiliki pilihan masing-masing?
Jika hidup ini adalah sandiwara, maka salahkah jika aku bermain peran dengannya?
Tapi jika hidup ini adalah sebuah pengkhianatan, pilihan manakah yang masih tersisa untukku?
Aah, cinta. Aku tak pernah mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya. Tapi meski begitu, aku sungguh merindukan cinta sejati. Aku rindu akan kasih dan perhatiannya padaku. Aku rindu akan semua kata-katanya yang begitu manis padaku. Aku rindu pada semua senyuman itu. Aku rindu. Bolehkah aku merindukanmu?
            Ingatan itu masih terlalu lekat, masih terlalu jelas meski diputar berulang kali dengan resolusi berapapun.
“Pinta,, kamu tahu gak,, hari ini aku seneeeeng bangett” ucapku pada Pinta sahabatku di dalam kelas. Aku dan Pinta memang selalu membicarakannya setiap kali guru tidak masuk, dan setiap kali ada kesempatan untuk membicarakannya. Tak tahu, dia terlalu menarik untuk tidak dilewatkan disetiap pembicaraan.
“Ciyeeee ,,, apa tentang si Dia?? Eheeemmmm eheemmm” ucap Pinta meledekku.
“Hehee, iyaa Pinta sayang kamu tahu ajaa pikiranku. Aku bener-bener dibuat melayang tahu gak sih. Seperti diajak terbang ke langit ke tujuh dan setiap yang kulihat adalah bunga-bunga cinta yang bertebaran dimana-mana” celotehku dengan wajah yang penuh harap.
“Hahaha, kamu alayy bangett siih Zarrah. Ehh,, tapi mungkin ini kode kalo dia juga suka sama kamu” ucap Pinta.
Namun percakapan kami terhenti karena tiba-tiba guru masuk ke kelas. Dan sebagai murid yang rajin (merasa rajin tepatnya), kami memilih diam. Namun entahlah, dalam hatiku, dia tidak pernah berhenti menghiburku, membuatku tertawa meski semuanya terdiam. Membuatku tersenyum, meski hanya seorang diri.
            Terkadang, muncul keinginanku untuk bisa lebih dekat dengannya saat di kelas. Sama seperti dekatnya kita dalam SMS-SMS itu. Tapi setiap aku berhadapan  dengannya, aku merasa rapuh, tak sanggup berdiri atau bahkan untuk sekedar mengerluarkan kata-kata.  Dia adalah cahaya hidupku, yang terus menyinariku, yang memberiku kekuatan dan semangat.   Namun kau tahu, cahaya ketika didekatkan terlalu dekat, bahkan bisa membuat mata kita sakit. Semuanya harus sesuai porsi, dan aku merasa porsi dengannya harus bertahap, tidak bisa langsung menuju tahap yang tinggi. Yah, begitulah yang aku pikirkan. 
            Apa pun yang aku rasakan tentangnya, selalu kuutarakan pada sahabatku, dialah Pinta. Aku merasa Pinta mengerti apa yang kuinginkan. Yahh tentu saja, dia selalu memberikan informasi-informasi ter-update tentangnya padaku.  Foto-foto terbarunya di Instagram, tweetnya di Twitter, sampai semua kegiatannya di Facebook. Pinta memberitahuku tentang itu. Aku merasa telah memilikinya. Aku dan dia menyadari akan kedekatan hubungan kita. Aku pun merasa apa yang kurasakan juga dia rasakan. Oh, betapa senangnya hati ini.
Tapi aku juga takut, takut dia akan berpaling dari tulusnya cinta yang kumiliki. Entahlah, mungkin karena perasaan cemburu yang begitu dalam saat aku melihat dia dekat dengan wanita lain. Yah, aku melihatnya dekat dengan seseorang yang juga menyukainya. Wanita itu selalu memberikan komentar pada semua postingannya, entah di Instagram, Twitter, maupun FB. Semuanya selalu hadir wanita itu. Aahhhhh,,,, wajarkah jika aku merasa cemburu?
Dan semua keluh kesahku tentangnya, selalu kuceritakan pada Pinta, karena dialah sahabatku yang paling mengerti tentang semua perasaanku.
“Sabar Zarrah, aku ngerti perasaan kamu. Tapi kayaknya dia ituu gak beneran suka deh sama cewek itu. Buktinya dia kan selalu perhatian sama kamu. Selalu tanyain kabarmu, pengin tahu semua yang kamu lakuin. Semua itu kurasa karena cinta.” Ucap Pinta menenangkanku.
Aku menang selalu merasa tenang, jika sudah mengeluarkan unek-unekku. Tapi setiap aku berpikir  tentangnya. Mengapa pertanyaan selalu saja bermunculan? Aku ingin menanyakan semua ini padanya, kenapa begini? Kenapa begitu? Aku cuma ingin tahu. Itu saja.
“Ta, aku bingung banget sama dia. Kamu tahu kan aku dan dia dekat banget. Aku itu cewek, feeling aku tuh kuat Ta. Aku yakin kok dia punya perasaan yang sama kayak aku. Tapi kenapa Ta,,, kenapa sampai sekarang dia enda nyatain cintanya ke aku? Berapa lama lagi aku harus nunggu Ta?” ucapku.
“Mungkin dia masih malu Ra’. Buktinya aja, sekaarang dia setiap ngeliat kamu tuh tetep aja nunduk, gak berani natap kamu. Kalo emang dia gak suka yaa sama kamu, kenapa dia gak besikap biasa-biasa aja kalo ketemu kamu?” ucap Pinta mengakhiri semua kegalauanku saat ini.
“Iya juga siih Ta, aku mungkin terlalu sayang sama dia. Sampai-sampai aku negatif thinking , karena aku takut, suatu saat kedekatan ini tak berakhir indah seperti yang kumau”.

            Aku dan Pinta tidak hanya bercerita tentang cinta. Kita juga selalu mengerjakan tugas bersama,  pulang sekolah bareng, aku sering main ke rumanya, dan dia juga sering main ke rumahku. Aku dan dia sudah seperti saudara.
            Dari hari ke hari, aku semakin merasakan rasa suka itu darinya untukku. Perhatiannya selalu ada untukku, kata-katanya selalu manis padaku, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta? Yah,, setiap hari aku semakin jatuh cinta padanya.
***
Di hari dengan cuaca yang begitu panas ini. Entah mengapa hatiku ikut panas dan menjadi-jadi. Hatiku disobek, hatiku diiris-iris begitu tipis, hatiku remuk, hatiku hancur, seperti apakah hati yang tersisa ini?  Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan sepotong kecil sisa hati ini?
“Tuhaann,,, bantu akuu. Aku tak sanggup dengan semua inii” aku merintih setelah membaca semua SMS darinya untuknya. Yah,, dialah sahabatku, Pinta. Dialah yang ternyata menyukai laki-laki itu. Laki-laki yang sejak pertama kali melihatnya aku menyukainya, laki-laki yang sejak pertama aku menyukainya aku selalu bercerita padanya, laki-laki yang selalu ada dalam harapan-harapanku. Itulah dia yang ternyata sahabatku, saat ini, dia, lebih dekat dari seorang teman.
“Bagaimana mungkin kamu melakukan ini? Padahal kamu tahu, aku sunguh-sunguh mencintainya” rintihku dalam hati.
            Saat itu aku hanya ingin tahu informasi tentang dia. Aku membuka hp Pinta hanya untuk melihat foto-foto dia di Instagram.  Tapi tanpa sadar, tanganku tergerak untuk membuka SMS-SMSnya. Aku kaget. Ternyata sahabatku sendiri, telah memiliki kedekatan khusus dengannya. Dengan dia yang juga kusuka. Tapi kenapa,  kenapa baru sekarang? Setelah aku mencintainya dan setelah dia memberikan harapan padaku, dan dia memberikan dukungan untukku? Mengapa?
Aku membaca semua pesan-pesan itu dari awal sampai akhir. Begitu romantis, begitu menyakitkan.     Berhari-hari konflik ini terjadi. Berhari-hari aku sunguh tak kuasa menahan rasa cemburu ini. Emosiku benar-benar diuji.  Teman-teman kelasku sudah mengetahui tentang semuanya. Dan tentu saja ini menjadi bahan pembicaaraan yang begitu hangat.  Dan kelasku terbagi menjadi kelompok-kelompok. Suasana ini semakin kacau, ada apa dengan semua ini? Aku kah atau kamukah yang membuat semua kekacauan ini? Aku tak mengerti, aku hanya membenci keadaan ini, sungguh membencinya.
***

            Baiklah, berhari-hari aku mengobati lukaku, berusaha bertahan demi hidup ini. Berusaha tegar demi harapan. Dan menjadi kuat dengan semangat. Aku sungguh-sunguh berusaha tegar meski hatiku telah hancur berkeping-keping. 
Tapi pisau seperti apa lagi ini. Luka yang dulu kuobati, dan mungkin sembuh. Tiba-tiba saja kembali mengaga, terbuka lebar-lebar. Dan entah sampai kapan bisa kembali sembuh. Ataukah entah kapan aku bisa menyembuhkannya. Baru saja dia bercerita padaku, dia dan dia sudah menjadi sepasang kekasih.  Dan Pinta sendiri yang menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiranku, pikirannya, dan isi hatiku. Ada perasaan menerima karena sahabat, tapi ada juga perasaaan yang begitu menyakitkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menerima dengan perasaan yang apa adanya. Keadaan yang memaksaku dengan kejam untuk menerimanya. Pengakuan yang begituu menyakitkan.
Ahh,, kenapa dulu kau memberiku harapan? Jika akhirnya kau memilih dia. Tak tahukah kamu seperti apa rasa sakit itu? Seandainya aku menjadi kamu, dan kamu menjadi aku, bagaimana perasaanmu? Akankah kamu menerima semua keadaan dimana disetiap keadaan posismu selalu terjepit?
Begitu mudahnya aku mencintamu, begitu mudahnya kamu menyakitiku. Tetapi mengapa begitu sulit merelakanmu bersamanya? Aahhh,, aku memang bodoh yang telah percaya dengan semua harapanmu yang ternyata palsu. Kamu memang tak pernah berimajinasi, bagaimana jika aku yang menyakiti mu, menyakiti  dia, menyakiti kalian, seperti ini?
Ataukah bolehkah aku berharap satu harapan yang tidak mungkin? Bolehkah kalian saling mencintai setelah aku membencimu? Apa yang ada dipikiranmu? Tolong jelaskan. . aku benar-benar tersakiti. .
“Sudahlah Ra’. Jangan kamu membuat hatimu tersobek hanya karena satu atau dua orang. Dunia ini dipenuni oleh manusia. Ribuan, jutaan, milyaran, dan semuanya benar-benar bersedia menjadi pengobat hatimu Ra’. Ikhlaskan semuanya. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Tuhan hanya ingin mempertemukanmu dengan belahan jiwamu nanti, tanpa kamu  harus menjalin hubungan dengan laki-laki lain sebelum suatu saat kau bertemu dengannya Ra’. Siapa pun yang menyatukan diri hari ini, belum tentu akan disatukan Allah suatu hari nanti. Kamu harus bersyukur, Tuhan memberimu pelajaran berharga tentang hidup, cinta, dan persahabatan. Mengertilah dan pahamilah dengan artinya Ra’” ucap Riri memberiku dukungan.
“Terima kasih Ri.. aku merasa lebih baik sekarang. Mungkin aku hanya shock dengan semua kebetulan yang begitu cepat ini” ucapku pada Riri, teman kelasku yang selalu memberi motivasi untuk semua teman-temannya yang merasa sendiri dan kesepian.
“Waktu akan menjadi guru terbaik untuk kita. Kita hanya perlu berjalan bersama waktu, tanpa menunggunya, dan tanpa ditunggunya” ucap Riri.
            Dan begitulah jalan cerita cintaku, cinta yang menyakitkan. Yang selama ini ternyata hanyalah anemone, tak bisa menjadi nyata, ya anemone adalah sebuah harapan dan hanya harapan tidak untuk menjadi nyata.  Aku terus belajar mengikhlaskanmu, walau aku  tak mampu. Aku percaya, Tuhan selalu mampu membuatku tersenyum, mungkin suatu hari nanti. Lihatlah, Krisna.  J 

****