Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi
Dan aku memulainya. Aku memulai untuk kesekian
kalinya. Kutuliskan cerita tentang dia, tentang mereka. Yah,mereka yang terus menerus menjadi idola yang tak
pernah kutahu ujungnya. Hari ini aku merasa begitu bahagia. Bahagia. Tak tahu
mengapa dan jangan tanyakan aku kenapa. Karena jawabannya aku tak tahu sama
sekali. Aku tak tahu begitu banyak tentang dia. Tentang mereka. Tetapi aku cukup berbakat untuk bisa
mengetahui perasaaan seseorang “hanya” dari kalimatnya. Hari yang tak terduga. Tak pernah terduga.
Mungkin begitu membosankan bagimu.
Bagi sebagian (besar) orang. Tapi sungguh tak pernah membosankan bagiku.
“Kak Liyee???”
sapa seorang anak berseragam SMA yang bisa kupastikan dia anak kelas X. aku
lupa siapa namanya. Yang jelas aku mengenal wajahnya. Wajah-wajah yang dulu
sering menyapaku ketika masih duduk dibangku SMP di SMPN 1 Mewa. Sudah lama sekali aku tak pernah bertemu
dengan teman-teman kecilku, aku kangen mereka. Kangen. Mungkin karena dua tahun
terakhir ini aku terlalu sibuk dengan kesibukanku yang tak pasti? Entahlah. Aku tak tahu. Yang
kutahu ada rasa yang begitu tak bisa kujelaskan saat kembali melihat mereka
yang selama dua tahun terakhir ini sudah tak pernah kutemui.
“Hallloo” sapaku
bersemangat walau aku sedikit lupa siapa dia. Tapi setidaknya aku ingat bahwa
dia adik kelasku waktu di SMPN 1 Mewa. Kecepatan motor kami yang melaju dengan
kecepatan masing-masing (kecepatanku hanya 40 km/jam, itu pun mungkin kurang.
Aku tahu kecepatan dia berapa, aku tak melihat) membuat momen indah itu hanya
berlangsung sepersekian detik. Pertemuan singkat yang membuka lembaran tentang masa-masaku bersama
mereka.
Sudah lama sekali
aku tak pernah berkeliling kampung. Begitu lama hingga tempat ini terasa begitu
asing bagiku. Asing, tak seasing orangnya.
Sebenarnya hari ini bukan jadwalku berkeliling, atau jalan-jalan lebih
tepatnya (karena aku tak punya jadwal jalan-jalan, bahkan tak pernah). Aku hanya mengantar Bibiku ke suatu tempat.
Aku tak tahu apa urusannya. Aku hanya berhak tahu aku mengantarnya. Itu saja.
Sebenarnya bukan aku tak punya waktu sama sekali untuk berjalan-jalan walau 5
menit berkeliing kampung. Tapi aku memang sangat malas untuk berkeliaran tak
jelas layaknya anak-anak yang sering nongkrong (sambil merokok tentu saja) di jempatan setiap sore, tak jelas maksud dan
tujuannya. Aku bahkan selalu mengutuk
mereka tiap kali aku melihatnya tanpa “manfaat” di atas jembatan yang
menghubungkan kampungku dengan kampung sebelah. Kampung salah seorang temanku
yang satu sekolah denganku. Walau sebenarnya hipotesisku tentang
‘ketidakmanfaatan’ mereka tak sepenuhnya benar untuk diargumenkan. Karena pada
kenyataannya, mereka seperti itu Karena memang lingkungan yang telah memaksan
mereka membentuk karakter yang begitu liar dan buas. Aku merinding, karena aku
pun pernah mengalami masa-masa kritis andai salah selangkah saja aku mungkin
akan seperti mereka. Ah, tapi fokusnya
bukan ini. Nanti saja kuceritakan bagian ini kalo aku lagi berbaik hati mau
menceritakannya.
Sore itu langit sedikit mendung, tapi
hari begitu panas. Perubahan iklim mungkin telah banyak berpengaruh dengan
perubahan suhu sore hari ini. Pekerjaan
mengantar Bibiku sudah selesai. Yah,
perlajanan inilah yang menyenangkan. Mungkin karena aku sudah lama tidak pernah
melihat kampungku. Aku kangen tempat ini. Tanah kelahiranku yang sering kali
tak pernah ku tahui kabar baik dan
buruknnya. Dalam perjalanan yang
kedua, aku bertemu temanku Johan. Teman
sekampung yang bertemu setahun sekali. Aku menyapanya dan memberikan senyum,
tulus. Semata-mata karena aku merindukan mereka semua. Rasa rindu yang sudah tak dapat terbendung.
Dia membalas senyumanku walau terlihat jelas rasa malu. Mungkin malu karena
sudah lama sekali kita tidak saling menyapa (karena memang jarang bertemu,
kalau bertemu pasti menyapa ) jadi semuanya terasa seperti ada gap yang membatasi aku dengan temanku
itu. Aku tak tahu. Mengingatkanku, delapan tahun yang lalu. Ketika kita masih duduk dikelas 4 SD. Yahh,
kejadian yang tak akan pernah aku lupakan.
Waktu itu ibu guru memberikan kita tugas mencatat. Dan aku dipercaya
oleh teman-temanku sebagai orang yang bagus (lebih tepatnya rapi)tulisannya,
aku pun menjadi ‘korban’ penganiayan tidak langsung yang secara telak langsung
mengenaiku. Bagaimana tidak. Mereka sekian banyak entah mengapa seperti telah
bersepakat. Selalu aku dan aku. Ah, menjengkelkan juga terkadang. Aku tak
pernah menyukai pekerjaan itu. Karena di depan kelas aku akan berhadapan dengan
‘manusia’(mungkin fisiknya saja yang manusia) yang super duper jahil. Aku benci
sekali. Aku juga yang akan menjadi penanggung jawab bagi siapa saja yang ribut
selama mencatat. Aku pun harus mengulang semua catatan itu di rumah sendirian.
Tapi bukan itu sih sebenarnya yang buat aku setengah mati benci mencatat di
papan tulis. Tak lebih tak kurang adalah gara-gara manusia superjahil yang
kukatakan tadi. Bahar namanya. Aku tak bisa
menjelaskan baik buruk tentang dia. Aku hanya bisa menjelaskan kegiatannya yang
sepanjang jam sekolah, di kelas ,di lapangan dan dimana saja kerjaannya hanya
menggangu orang dan membuat para siswi menangis (kecuali aku). Berkata jorok, hal yang
paling dan sangat tidak aku suka. Apalagi hobinya dalam membuat onar dikelas,
si Bahar ini adalah ketuanya. Namun
dukungan teman-teman sekelas bahwa aku yang harus mencatat memang tak bisa
kukalahkan seorang diri. Bagi mereka tugas mencatat itu adalah tugas kehormatan
dari guru, dan aku yang harus melakukannya. Kata mereka. Itu kata mereka.
Menurutku tak ada kehormatan sama sekali. Sama sekali tak ada yang harus
diangggap kehormatan. Tapi aku benar-benar tak kuasa untuk melakukan pembelaan
terhadap diriku sendiri. Jumlah mereka terlalu banyak untuk perang perdebatan
ini. Sungguh tak adil. Aku pun mengalah.
Aku mencatat
dengan tenang tanpa ganguan dan hambatan selama sepuluh menit belakangan. Aku
juga fokus pada bacaan yang akan kucatat. Jadi sambil mencatat aku juga membaca
dan memahami maksudnya sekaligus. Aku sudah begitu bersalah dengan Bahar. Dia
bahkan tak menggangguku. Aku senang sekali. Aku melihatnya mencatat. Mungkin juga karena takut di buly sama teman-teman yang lain jika
berani menggangu orang yang sedang mencatat. Terlebih karena perdebatan
panajang tadi.
Tak ada angin tak
ada hujan, tapi tiba-tiba,..
Konsep pemikiranku
langsung berubah sepersekian detik saat aku tiba-tiba melompat kaget. Dia datang
dari belakangku dan dengan jahilnya langsung memberikan surprise yang sangat tidak menyenangkan. Gimana kalo aku punya
penyakit jantung? Apa orang yang gak bertanggung jawab seperti dia bisa
mengatasinya? (sebenarnya aku tak mengerti mengapa aku begitu membenci si Bahar
ini, mungkin karena hal-hal lain yang sering dia lakukan padaku. Membuat
kesalahan sekecil apa pun pasti besar dimataku).
“yeee, dasar
nenek gombel. Ganggu dikit aja langsung ngomel” dia tertawa dan berlari ke
belakang. Aku memanas. Tapi aku tak mau terpancing. Aku tak ingin membuat kelas
menjadi ramai karena kompetisi antara aku dan Bahar. Tapi kemudian beberapa
menit kemudian, dia datang. Kali ini aku menyadari kedatangannya. Aku sebagai
orang yang diamanatkan untuk menjaga ketertiban kelas harus berusaha sebisa
mungkin mengatasi perilaku aneh si Bahar ini. Walau aku bingung. Bagaimana
mungkin ibu guru menitipkan amanat pada seorang anak SD yang masih berumur dua
belas tahun untuk mengemban amanat
seberat ini? Menghadapi ketua pembuat onar yang guru saja hanya kepala sekolah
yang ia segani? Oh Tuhan, bantu saya.
“Bahar, kalau
kamu tidak mencatat aku lapor ibu Guru” ucapku padanya dengan tatapan yang begitu
sinis dan sadis. (ini berdasarkan komentar teman-teman yang melihatnya, haha.
Tega juga aku).
“Tenang,
santai.!!! Mau aku ganti?” dia mengambil
spidol ditanganku tanpa harus menunggu persetujuanku yang jelas-jelas akan
menolaknya. Jangankan temannya yang baca, disuruh baca ulang tulisan sendiri
saja tidak pernah bisa.
“Sembarangan
betul!!! Kembalikan.. aku harus selesaikan mencatat. Ibu Guru bilang harus
selesai” sanggahku sambil mempeributkan spidol yang saat ini sedang
dikuasainya.
“Ambil saja kalo bisa,,
weekkkk!!!!!!!!?? Katanya menjulurkan lidah dan sedikit menjauh dariku. Telak
langsung mengena. Rupanya dia tahu aksi panas memanasi itu tak akan membuat
aku panas hanya dengan kata-katanya. Dia
pun mulai beraksi dengan jurus andalannya. Merebut apa pun yang menurutnya
perlu direbut. Terjadilah perang mulut yang begitu membuatku sakit hati. Dia
yang memulai semuanya. Aku yang terlanjur benci dengannya, sebagai anak-anak
SD aku tahu kebencian itu muncul karena
dia selalu menggangguku. Mulailah keluar berbagai perkataan yang membuatku
tersinggung. Tapi aku mencoba bersabar. Aku benar-benar bersabar walau hatiku
benar-benar panas. Tapi terakhir, kata terakhir yang benar-benar membuatku tak bisa
lagi menahan amarah. Dia menyingung ibuku. Ah, masalah sensitif itu kembali
disebut. Aku tak akan pernah bisa menahan tangis jika dia mengatakan hal itu.
Aku benci. Aku sungguh membenci hari itu. Termasuk dia. Bahar musuhku
satu-satunya. Mungkin dia juga
berperasaan sama sepertiku, tentang kebencian ini pastinya. Buktinya dia
terlihat begitu bahagia melihatku mulai down.
Jurus-jurus selanjutnya mulai dilayangkan. Dia mencolekku menambah panas dalam
hatiku. Aku, aku sunguh kesal pada manusia satu ini. Aku sudah tidak bisa
menahan amarah. Aku marah semarah-marahnya. Dia menyebut masalah ibuku. Aku
bahkan tak pernah ingin tahu dan mendengar. Tapi dia malah datang seperti
membongkar kuburan yang telah bertahun-tahun dikuburkan. Mengusik ketenangan.
Mengundang peperangan.
“Bahaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?????????!!
Suaraku terdengar panas. Seisi kelas hanya bisa terdiam melihat “drama” anatara
tokoh antagonis (aku menempatkan posisi ini lebih tepatnya di Bahar. Karena
walaupun mungkin aku salah, tapi dia yang selalu memulai duluan), dan tokoh
protagonis (sudah pasti aku, karena hanya ada aku dan dia dalam drama
ini). Semuanya diam, tak bergerak, yang
bergerak jadi berhenti bergerak. Yang tak bergerak tambah mematung. Bahkan lucunya mereka. Mereka menghentikan
gerakan dan tak merubah posisinya sama sekali, cutting. Dan ini benar-benar telihat seperti drama. Tapi ini bukan
drama. Ini nyata antara aku dan Bahar. Antara hitam dan putih. Antara hidup dan
mati. Harga diri yang dibawa mati. Dia juga diam, tak bergeming.
“Kamu Bahar. Si
Bahar anak jago. Jago yang dijago-jagoin sendiri. Aku benciii
kamuuuuuu!!!!!!!!!!?????????? Sungguuh, manusia terburuk di dunia ini adalah
kamuuuuuuuuuuuuu??!!! Yaaahhhh kamuuuuuuuuuu!!!!!!! Bodoh, dekil, bau, sok-sok
ngatur semua. Siapa kamuuu????????????!!!!! Hah?? Mentang-mentang kamu cowok
disini. Terus kamu seenaknya ngejahilin kami. (aku memakai kata kami, karena
memang kami yang siswi sangat sering menerima perlakuan menyebalkan dari si
Bahar)pokoknya aku dan semua teman-teman pasti ngelaporin kamu sama Bu Guru.
Awas saja kamu. Tunggu saja. Aku beeennciiiiiii kamuuuuu!!!!!!!!!!!!” aku tak tahan lagi. Air mataku jatuh. Aku
membenci hari itu. Aku tak pernah membenci Bahar sehebat ini. Ini semua murni
kesalahannya. Kelas sedang hening tapi dia malah mengahancurkan keheningan itu,
menambahnya dengan berbagai bumbu pedas yang menusuk hatiku. Sungguh tertusuk.
Tertusuk begitu dalam. Dia sekali lagi, terus dan berulang ,menyebut sebuah hal
sensitif yang sudah jelas dia tahu itu membuatku panas, sedih, kecewa, dan
seribu perasaan yang tak tertepikan. Dia
hanya terdiam. Menyadari aku mulai marah semarah-marahnya. Dia diam. Tak
bergeming. Aku mendekatinya. Berkata, pelan dan lirih.
“Jangan pernah
menyebut ibuku”.
***
Suasana tak
senyaman tadi. Semua ini gara-gara si
Bahar. Si pembuat onar yang mengundang kemarahanku. Aku sudah tak fokus lagi
mencatat di papan tulis. Berkali-kali temanku meminta menggantikanku. Tapi aku
menolak. Sikap egois anak-anak masih tetap melekat dalam diriku. Walau tulisanku
banyak yang salah. Dan teman-temanku selalu memperbaiki. Mereka tak pernah
marah. Mereka benar-benar mengerti bagaimana perasaaanku. Terutama teman-teman yang mengetahui kisahnya. Yah.
Mereka begitu teman yang menyenangkan (kecuali si Bahar tentu saja). Aku menulis namun dikepalaku masih
berkumandang kata-kata tajam yang begitu menusuk. Aku kangen ibuku. Sampai-sampai aku tak sadar telah menumpahkan
semua rasa kesal pada Bahar pada tulisanku di papan tulis. Aku
menulis sebuah kalimat dan tepat dikata “mata” aku menuliskannya besar sekali.
Hampir seperempat papan tulis. Aku tak
sadar. Sungguh aku benar-benar tidak sadar apa yang kutulis.
Namun ternyata,
aku balik ke belakang. Dan Johan. Temanku menangis tiba-tiba. Aku bingung.
Teman-teman yang lain tertawa. Si Bahar apalagi. Walaupun ketika pandangan
tepat mengarah ke dia. Dia langsung vakum, diam seribu bahasa. Entahlah.
“Kenapa nangis
Jo” tanyaku yang sudah selesai mencatat dan langsung duduk di bangku.
Dia nangis. Aku
juga bingung. Bagaimanamungkin orang-orang bisa berkata laki-laki sulit
menangis? Buktinya, Johan temanku menangis begitu saja tanpa sebab yang pasti.
Sungguh aneh dan tambah aneh.
“Si Bahar ganggu
kamu Jo?” tanyaku lagi karena pertanyaan pertama tak dijawab. Dia tidak berkata. Dia hanya menatapku. Aku yang mungkin terlalu cepat berpikir
dewasa mencoba berpikir. Mungkin Johan lagi sedih. Itu saja.
“Hahahaha..kasihan
kamu Jojo. Hahahaha” suara si Bahar terdengar dari belakang. Aku tak mau menghiraukannya.
Tapi suara isakan Johan semakin keras dan aku pun harus menanyakan untuk yang
ketiga kalinya. Mana mungkin aku tega melihat temanku menangis sendiri dan si
Bahar, anak super menyebalkan itu menertawakannya. Tidak mungkin.
“ Jo, kalo kamu
gak mau cerita gak apa-apa. Tapi kamu nangis bukan karena aku kan?” tanyaku
padanya yang sudah jelas tak punya masalah atau salah sedikitpun dengannya.
Karena setiap hari aku selalu bermasalah. Yah bermasalah. Bermasalah dengan
‘berandal’ satu itu. Satu-satunya musuhku. Johan menatapku kosong. Seperti ada sesuatu
yang membuatnya marah. Sama seperti tadi yang kurasakan. Tapi dia terlihat
lebih cengeng. Mungkin karena keseringan bermain dengan perempuan jadinya
psikisnya menjadi lebih seperti
perempuan(bukan perempuan, tapi halus seperti perempuan) .
“Liye, Johan
ngambek liat tulisan “mata” kamu tulis dipapan tulis besar-besar. Matanya dia
kan besar. Kata si Bahar tulisan mata itu besar kayak matanya Johan” kata Hasty
memberikan penjelasan. Penjelasan yang cukup membuatku paham. Dan kembali
kutatapi si Bahar, kali ini tatapanku tajam setajam silet. Seperti srigala yang
siap mencekam. Dia merasa gentar. Tak
bergeming. Lagi.
“Apalagi maumu?
Bahar si anak JAGO?”
***
Johan tersenyum
padaku. Seolah sudah melupakan semua kejadian delapan tahun lalu. Tak
mengingatnya. Sama sekali. Namun dikepalaku. Semuanya masih tergambar begitu
jelas. Sejelas kesaksiannya bahwa akulah pembuat onar yang membuatnya menangis.
Yang menuliskan tulisan ‘mata’ besar-besar sebesar matanya. Kata temanku.
Aku pun berlalu.
Meninggalkan kampungku yang sempit. Sederhana dan damai. Sedamai jiwaku saat
ini. Masa lalu yang akan menjadi kenangan. Bukan kenangan pahit tentunya.
Melainkan kenangan penuh suka yang dialami anak dimasa SD secara ‘wajar’ bersama
teman-temanku. Aku merindukan mereka. Aku merindukan delapan tahun lalu. Aku
sudah tak pernah melihat si Bahar. Yang menurut hipotesisku delapan tahun lalu
adalah ‘anak pembuat onar’, ‘musuhku’, semuanya begitu menyenangkan. Kini aku sudah lebih dewasa untuk mengerti. Untuk
memahami. Memahami beribu kisah yang tak akan pernah berakhir di bangku
sekolah. Persahabatan dan cinta. Yang tak bisa diterjemahkan kedalam
bahasa apapun. Hanya bisa dimengerti
oleh mereka yang memiliki arti tentang
makna hidup, persahabatan yang akan tetap abadi. Persahabatan bahwa sebenarnya
tak ada dia, tak ada aku, tak ada kamu, tak ada siapa pun. Yang ada hanyalah
kami. Aku begitu merindukannya. It’s not
a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages,FriedrichNietzche.
Rindu. Aku, mereka, dan delapan tahun
lalu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar