Minggu, 06 September 2015

Aku,Mereka,dan Delapan tahun Lalu

Oleh : Nuraini Cahaya Ilahi 

Dan aku memulainya. Aku memulai untuk kesekian kalinya. Kutuliskan cerita tentang dia, tentang mereka.  Yah,mereka  yang terus menerus menjadi idola yang tak pernah kutahu ujungnya. Hari ini aku merasa begitu bahagia. Bahagia. Tak tahu mengapa dan jangan tanyakan aku kenapa. Karena jawabannya aku tak tahu sama sekali. Aku tak tahu begitu banyak tentang dia. Tentang mereka.  Tetapi aku cukup berbakat untuk bisa mengetahui perasaaan seseorang “hanya” dari kalimatnya.  Hari yang tak terduga. Tak pernah terduga.
          Mungkin begitu membosankan bagimu. Bagi sebagian (besar) orang. Tapi sungguh tak pernah membosankan bagiku.
“Kak Liyee???” sapa seorang anak berseragam SMA yang bisa kupastikan dia anak kelas X. aku lupa siapa namanya. Yang jelas aku mengenal wajahnya. Wajah-wajah yang dulu sering menyapaku ketika masih duduk dibangku SMP di SMPN 1 Mewa.  Sudah lama sekali aku tak pernah bertemu dengan teman-teman kecilku, aku kangen mereka. Kangen. Mungkin karena dua tahun terakhir ini aku terlalu sibuk dengan kesibukanku yang  tak pasti? Entahlah. Aku tak tahu. Yang kutahu ada rasa yang begitu tak bisa kujelaskan saat kembali melihat mereka yang selama dua tahun terakhir ini sudah tak pernah kutemui.

“Hallloo” sapaku bersemangat walau aku sedikit lupa siapa dia. Tapi setidaknya aku ingat bahwa dia adik kelasku waktu di SMPN 1 Mewa.  Kecepatan motor kami yang melaju dengan kecepatan masing-masing (kecepatanku hanya 40 km/jam, itu pun mungkin kurang. Aku tahu kecepatan dia berapa, aku tak melihat) membuat momen indah itu hanya berlangsung sepersekian detik. Pertemuan singkat yang  membuka lembaran tentang masa-masaku bersama mereka. 

Sudah lama sekali aku tak pernah berkeliling kampung. Begitu lama hingga tempat ini terasa begitu asing bagiku. Asing, tak seasing orangnya.  Sebenarnya hari ini bukan jadwalku berkeliling, atau jalan-jalan lebih tepatnya (karena aku tak punya jadwal jalan-jalan, bahkan tak pernah).  Aku hanya mengantar Bibiku ke suatu tempat. Aku tak tahu apa urusannya. Aku hanya berhak tahu aku mengantarnya. Itu saja. Sebenarnya bukan aku tak punya waktu sama sekali untuk berjalan-jalan walau 5 menit berkeliing kampung. Tapi aku memang sangat malas untuk berkeliaran tak jelas layaknya anak-anak yang sering nongkrong (sambil merokok tentu saja)  di jempatan setiap sore, tak jelas maksud dan tujuannya.  Aku bahkan selalu mengutuk mereka tiap kali aku melihatnya tanpa “manfaat” di atas jembatan yang menghubungkan kampungku dengan kampung sebelah. Kampung salah seorang temanku yang satu sekolah denganku. Walau sebenarnya hipotesisku tentang ‘ketidakmanfaatan’ mereka tak sepenuhnya benar untuk diargumenkan. Karena pada kenyataannya, mereka seperti itu Karena memang lingkungan yang telah memaksan mereka membentuk karakter yang begitu liar dan buas. Aku merinding, karena aku pun pernah mengalami masa-masa kritis andai salah selangkah saja aku mungkin akan seperti mereka.  Ah, tapi fokusnya bukan ini. Nanti saja kuceritakan bagian ini kalo aku lagi berbaik hati mau menceritakannya.

          Sore itu langit sedikit mendung, tapi hari begitu panas. Perubahan iklim mungkin telah banyak berpengaruh dengan perubahan suhu sore hari ini.  Pekerjaan mengantar Bibiku sudah selesai.  Yah, perlajanan inilah yang menyenangkan. Mungkin karena aku sudah lama tidak pernah melihat kampungku. Aku kangen tempat ini. Tanah kelahiranku yang sering kali tak pernah ku tahui kabar baik dan  buruknnya.  Dalam perjalanan yang kedua, aku bertemu temanku Johan.  Teman sekampung yang bertemu setahun sekali. Aku menyapanya dan memberikan senyum, tulus. Semata-mata karena aku merindukan mereka semua.  Rasa rindu yang sudah tak dapat terbendung. Dia membalas senyumanku walau terlihat jelas rasa malu. Mungkin malu karena sudah lama sekali kita tidak saling menyapa (karena memang jarang bertemu, kalau bertemu pasti menyapa ) jadi semuanya terasa seperti ada gap yang membatasi aku dengan temanku itu. Aku tak tahu. Mengingatkanku, delapan tahun yang lalu.  Ketika kita masih duduk dikelas 4 SD. Yahh, kejadian yang tak akan pernah aku lupakan.  Waktu itu ibu guru memberikan kita tugas mencatat. Dan aku dipercaya oleh teman-temanku sebagai orang yang bagus (lebih tepatnya rapi)tulisannya, aku pun menjadi ‘korban’ penganiayan tidak langsung yang secara telak langsung mengenaiku. Bagaimana tidak. Mereka sekian banyak entah mengapa seperti telah bersepakat. Selalu aku dan aku. Ah, menjengkelkan juga terkadang. Aku tak pernah menyukai pekerjaan itu. Karena di depan kelas aku akan berhadapan dengan ‘manusia’(mungkin fisiknya saja yang manusia) yang super duper jahil. Aku benci sekali. Aku juga yang akan menjadi penanggung jawab bagi siapa saja yang ribut selama mencatat. Aku pun harus mengulang semua catatan itu di rumah sendirian. Tapi bukan itu sih sebenarnya yang buat aku setengah mati benci mencatat di papan tulis. Tak lebih tak kurang adalah gara-gara manusia superjahil yang kukatakan tadi. Bahar namanya.  Aku tak bisa menjelaskan baik buruk tentang dia. Aku hanya bisa menjelaskan kegiatannya yang sepanjang jam sekolah, di kelas ,di lapangan dan dimana saja kerjaannya hanya menggangu orang dan membuat para siswi  menangis (kecuali aku). Berkata jorok, hal yang paling dan sangat tidak aku suka. Apalagi hobinya dalam membuat onar dikelas, si Bahar ini adalah ketuanya.  Namun dukungan teman-teman sekelas bahwa aku yang harus mencatat memang tak bisa kukalahkan seorang diri. Bagi mereka tugas mencatat itu adalah tugas kehormatan dari guru, dan aku yang harus melakukannya. Kata mereka. Itu kata mereka. Menurutku tak ada kehormatan sama sekali. Sama sekali tak ada yang harus diangggap kehormatan. Tapi aku benar-benar tak kuasa untuk melakukan pembelaan terhadap diriku sendiri. Jumlah mereka terlalu banyak untuk perang perdebatan ini. Sungguh tak adil. Aku pun mengalah.

      Aku mencatat dengan tenang tanpa ganguan dan hambatan selama sepuluh menit belakangan. Aku juga fokus pada bacaan yang akan kucatat. Jadi sambil mencatat aku juga membaca dan memahami maksudnya sekaligus. Aku sudah begitu bersalah dengan Bahar. Dia bahkan tak menggangguku. Aku senang sekali. Aku melihatnya mencatat.  Mungkin juga karena takut di buly sama teman-teman yang lain jika berani menggangu orang yang sedang mencatat. Terlebih karena perdebatan panajang tadi.
Tak ada angin tak ada hujan, tapi tiba-tiba,..
Konsep pemikiranku langsung berubah sepersekian detik saat aku tiba-tiba melompat kaget. Dia datang dari belakangku dan dengan jahilnya langsung memberikan surprise yang sangat tidak menyenangkan. Gimana kalo aku punya penyakit jantung? Apa orang yang gak bertanggung jawab seperti dia bisa mengatasinya? (sebenarnya aku tak mengerti mengapa aku begitu membenci si Bahar ini, mungkin karena hal-hal lain yang sering dia lakukan padaku. Membuat kesalahan sekecil apa pun pasti besar dimataku).
“yeee, dasar nenek gombel. Ganggu dikit aja langsung ngomel” dia tertawa dan berlari ke belakang. Aku memanas. Tapi aku tak mau terpancing. Aku tak ingin membuat kelas menjadi ramai karena kompetisi antara aku dan Bahar. Tapi kemudian beberapa menit kemudian, dia datang. Kali ini aku menyadari kedatangannya. Aku sebagai orang yang diamanatkan untuk menjaga ketertiban kelas harus berusaha sebisa mungkin mengatasi perilaku aneh si Bahar ini. Walau aku bingung. Bagaimana mungkin ibu guru menitipkan amanat pada seorang anak SD yang masih berumur dua belas  tahun untuk mengemban amanat seberat ini? Menghadapi ketua pembuat onar yang guru saja hanya kepala sekolah yang ia segani? Oh Tuhan, bantu saya.
“Bahar, kalau kamu tidak mencatat aku lapor ibu Guru” ucapku padanya dengan tatapan yang begitu sinis dan sadis. (ini berdasarkan komentar teman-teman yang melihatnya, haha. Tega juga aku).
“Tenang, santai.!!!  Mau aku ganti?” dia mengambil spidol ditanganku tanpa harus menunggu persetujuanku yang jelas-jelas akan menolaknya. Jangankan temannya yang baca, disuruh baca ulang tulisan sendiri saja tidak pernah bisa. 
“Sembarangan betul!!! Kembalikan.. aku harus selesaikan mencatat. Ibu Guru bilang harus selesai” sanggahku sambil mempeributkan spidol yang saat ini sedang dikuasainya. 
“Ambil saja kalo bisa,, weekkkk!!!!!!!!?? Katanya menjulurkan lidah dan sedikit menjauh dariku. Telak langsung mengena. Rupanya dia tahu aksi panas memanasi itu tak akan membuat aku  panas hanya dengan kata-katanya. Dia pun mulai beraksi dengan jurus andalannya. Merebut apa pun yang menurutnya perlu direbut. Terjadilah perang mulut yang begitu membuatku sakit hati. Dia yang memulai semuanya. Aku yang terlanjur benci dengannya, sebagai anak-anak SD  aku tahu kebencian itu muncul karena dia selalu menggangguku. Mulailah keluar berbagai perkataan yang membuatku tersinggung. Tapi aku mencoba bersabar. Aku benar-benar bersabar walau hatiku benar-benar panas. Tapi terakhir, kata terakhir yang benar-benar membuatku tak bisa lagi menahan amarah. Dia menyingung ibuku. Ah, masalah sensitif itu kembali disebut. Aku tak akan pernah bisa menahan tangis jika dia mengatakan hal itu. Aku benci. Aku sungguh membenci hari itu. Termasuk dia. Bahar musuhku satu-satunya.  Mungkin dia juga berperasaan sama sepertiku, tentang kebencian ini pastinya. Buktinya dia terlihat begitu bahagia melihatku mulai down. Jurus-jurus selanjutnya mulai dilayangkan. Dia mencolekku menambah panas dalam hatiku. Aku, aku sunguh kesal pada manusia satu ini. Aku sudah tidak bisa menahan amarah. Aku marah semarah-marahnya. Dia menyebut masalah ibuku. Aku bahkan tak pernah ingin tahu dan mendengar. Tapi dia malah datang seperti membongkar kuburan yang telah bertahun-tahun dikuburkan. Mengusik ketenangan. Mengundang peperangan.
“Bahaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?????????!! Suaraku terdengar panas. Seisi kelas hanya bisa terdiam melihat “drama” anatara tokoh antagonis (aku menempatkan posisi ini lebih tepatnya di Bahar. Karena walaupun mungkin aku salah, tapi dia yang selalu memulai duluan), dan tokoh protagonis (sudah pasti aku, karena hanya ada aku dan dia dalam drama ini).  Semuanya diam, tak bergerak, yang bergerak jadi berhenti bergerak. Yang tak bergerak tambah mematung.  Bahkan lucunya mereka. Mereka menghentikan gerakan dan tak merubah posisinya sama sekali, cutting. Dan ini benar-benar telihat seperti drama. Tapi ini bukan drama. Ini nyata antara aku dan Bahar. Antara hitam dan putih. Antara hidup dan mati. Harga diri yang dibawa mati. Dia juga diam, tak bergeming.
“Kamu Bahar. Si Bahar anak jago. Jago yang dijago-jagoin sendiri. Aku benciii kamuuuuuu!!!!!!!!!!?????????? Sungguuh, manusia terburuk di dunia ini adalah kamuuuuuuuuuuuuu??!!! Yaaahhhh kamuuuuuuuuuu!!!!!!! Bodoh, dekil, bau, sok-sok ngatur semua. Siapa kamuuu????????????!!!!! Hah?? Mentang-mentang kamu cowok disini. Terus kamu seenaknya ngejahilin kami. (aku memakai kata kami, karena memang kami yang siswi sangat sering menerima perlakuan menyebalkan dari si Bahar)pokoknya aku dan semua teman-teman pasti ngelaporin kamu sama Bu Guru. Awas saja kamu. Tunggu saja. Aku beeennciiiiiii kamuuuuu!!!!!!!!!!!!”  aku tak tahan lagi. Air mataku jatuh. Aku membenci hari itu. Aku tak pernah membenci Bahar sehebat ini. Ini semua murni kesalahannya. Kelas sedang hening tapi dia malah mengahancurkan keheningan itu, menambahnya dengan berbagai bumbu pedas yang menusuk hatiku. Sungguh tertusuk. Tertusuk begitu dalam. Dia sekali lagi, terus dan berulang ,menyebut sebuah hal sensitif yang sudah jelas dia tahu itu membuatku panas, sedih, kecewa, dan seribu perasaan yang tak tertepikan.  Dia hanya terdiam. Menyadari aku mulai marah semarah-marahnya. Dia diam. Tak bergeming. Aku mendekatinya. Berkata, pelan dan lirih.
“Jangan pernah menyebut ibuku”.
***
Suasana tak senyaman tadi.  Semua ini gara-gara si Bahar. Si pembuat onar yang mengundang kemarahanku. Aku sudah tak fokus lagi mencatat di papan tulis. Berkali-kali temanku meminta menggantikanku. Tapi aku menolak. Sikap egois anak-anak masih tetap melekat dalam diriku. Walau tulisanku banyak yang salah. Dan teman-temanku selalu memperbaiki. Mereka tak pernah marah. Mereka benar-benar mengerti bagaimana perasaaanku. Terutama  teman-teman yang mengetahui kisahnya. Yah. Mereka begitu teman yang menyenangkan (kecuali si Bahar tentu saja).  Aku menulis namun dikepalaku masih berkumandang kata-kata tajam yang begitu menusuk. Aku kangen ibuku. Sampai-sampai aku tak sadar telah menumpahkan semua  rasa kesal  pada Bahar pada tulisanku di papan tulis. Aku menulis sebuah kalimat dan tepat dikata “mata” aku menuliskannya besar sekali. Hampir seperempat papan tulis.  Aku tak sadar. Sungguh aku benar-benar tidak sadar apa yang kutulis.
Namun ternyata, aku balik ke belakang. Dan Johan. Temanku menangis tiba-tiba. Aku bingung. Teman-teman yang lain tertawa. Si Bahar apalagi. Walaupun ketika pandangan tepat mengarah ke dia. Dia langsung vakum, diam seribu bahasa. Entahlah. 
“Kenapa nangis Jo” tanyaku yang sudah selesai mencatat dan langsung duduk di bangku.
Dia nangis. Aku juga bingung. Bagaimanamungkin orang-orang bisa berkata laki-laki sulit menangis? Buktinya, Johan temanku menangis begitu saja tanpa sebab yang pasti. Sungguh aneh dan tambah aneh.
“Si Bahar ganggu kamu Jo?” tanyaku lagi karena pertanyaan pertama tak dijawab.  Dia tidak berkata. Dia hanya menatapku.  Aku yang mungkin terlalu cepat berpikir dewasa mencoba berpikir. Mungkin Johan lagi sedih. Itu saja.
“Hahahaha..kasihan kamu Jojo. Hahahaha” suara si Bahar terdengar dari belakang. Aku tak mau menghiraukannya. Tapi suara isakan Johan semakin keras dan aku pun harus menanyakan untuk yang ketiga kalinya. Mana mungkin aku tega melihat temanku menangis sendiri dan si Bahar, anak super menyebalkan itu menertawakannya. Tidak mungkin.
“ Jo, kalo kamu gak mau cerita gak apa-apa. Tapi kamu nangis bukan karena aku kan?” tanyaku padanya yang sudah jelas tak punya masalah atau salah sedikitpun dengannya. Karena setiap hari aku selalu bermasalah. Yah bermasalah. Bermasalah dengan ‘berandal’ satu itu.  Satu-satunya musuhku.  Johan menatapku kosong. Seperti ada sesuatu yang membuatnya marah. Sama seperti tadi yang kurasakan. Tapi dia terlihat lebih cengeng. Mungkin karena keseringan bermain dengan perempuan jadinya psikisnya menjadi lebih seperti  perempuan(bukan perempuan, tapi halus seperti perempuan) .
“Liye, Johan ngambek liat tulisan “mata” kamu tulis dipapan tulis besar-besar. Matanya dia kan besar. Kata si Bahar tulisan mata itu besar kayak matanya Johan” kata Hasty memberikan penjelasan. Penjelasan yang cukup membuatku paham. Dan kembali kutatapi si Bahar, kali ini tatapanku tajam setajam silet. Seperti srigala yang siap mencekam.  Dia merasa gentar. Tak bergeming. Lagi.
“Apalagi maumu? Bahar si anak JAGO?”
***
Johan tersenyum padaku. Seolah sudah melupakan semua kejadian delapan tahun lalu. Tak mengingatnya. Sama sekali. Namun dikepalaku. Semuanya masih tergambar begitu jelas. Sejelas kesaksiannya bahwa akulah pembuat onar yang membuatnya menangis. Yang menuliskan tulisan ‘mata’ besar-besar sebesar matanya. Kata temanku.
Aku pun berlalu. Meninggalkan kampungku yang sempit. Sederhana dan damai. Sedamai jiwaku saat ini. Masa lalu yang akan menjadi kenangan. Bukan kenangan pahit tentunya. Melainkan kenangan penuh suka yang dialami anak dimasa SD secara ‘wajar’ bersama teman-temanku. Aku merindukan mereka. Aku merindukan delapan tahun lalu. Aku sudah tak pernah melihat si Bahar. Yang menurut hipotesisku delapan tahun lalu adalah ‘anak pembuat onar’, ‘musuhku’, semuanya begitu menyenangkan. Kini  aku sudah lebih dewasa untuk mengerti. Untuk memahami. Memahami beribu kisah yang tak akan pernah berakhir di bangku sekolah. Persahabatan dan cinta. Yang tak bisa diterjemahkan kedalam bahasa  apapun. Hanya bisa dimengerti oleh mereka yang  memiliki arti tentang makna hidup, persahabatan yang akan tetap abadi. Persahabatan bahwa sebenarnya tak ada dia, tak ada aku, tak ada kamu, tak ada siapa pun. Yang ada hanyalah kami. Aku begitu merindukannya. It’s not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages,FriedrichNietzche.  Rindu. Aku, mereka, dan delapan tahun lalu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar